Selamatkan Keluarga dari Bahaya Penyakit Kelainan LGBT Dengan Lima Langkah Ini

HARI ini harga diri umat Islam sedang dipertaruhkan. Kasus homoseksual yang sedang marak dibicarakan adalah salah satu penyebabnya. Kasus kelainan seks tersebut dapat dikatakan sebagai kasus pencideraan akidah.

Dalam Islam bentuk kelainan orientasi seksual tersebut dihukumi haram dan dosa besar. Allah menjanjikan azab, bagi aktivis kelainan tersebut. Bentuk penularannya dapat berupa propaganda Lesbian, Homoseksual, Biseks, dan Transgender (LGBT) yang tengah massif tersebar di berbagai media saat ini.

Pertanyaannya, siapa yang menjadi korban dari penyakit menular tersebut? Tak lain adalah anak-anak dan saudara serta kerabat kita sendiri. Untuk itu para orang tua mesti selalu bertanya, sedang apakah anak-anak hari ini? Bersama siapakah mereka bergaul?

Tentu saja, pertanyaan di atas bukan karena tidak percaya kepada mereka, tetapi sebagai tanggung jawab orang tua kepada anak-anak mereka.

Laiknya penyakit menular, penyakit kelainan LGBT termasuk penyakit berjangit berbahaya tapi penderitanya bisa diobati.

Para penderita tersebut bisa disembuhkan dengan usaha terapi. Bukan justru dikucili atau mendapat diskriminasi dari masyarakat.

Selanjutnya, untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Kokohkan akidah anak.

Akidah yang kokoh adalah sumber utama keselamatan dan kebahagiaan manusia. Ibarat imun, akidah menjadi tameng atas segala penyakit fisik dan ruhani.

Untuk mengokohkan akidah anak-anak, pastinya orang tua dulu yang menguatkan energi iman yang dipunyai. Sebab seringkali anak adalah cerminan dari orang tua dan lingkungannya.

Anak bisa lebih cepat belajar dengan faktor keteladanan dari pengajarnya, terlebih teladan dari guru dan orang tuanya.

  1. Optimalkan peran orang tua di rumah.

Sejumlah kasus amoral yang diberitakan, seperti hamil di luar nikah, konsumsi narkoba dan obat terlarang, serta pergaulan bebas lainnya, jika ditelusuri biasanya berujung kepada hilangnya peran pengawasan dan pendampingan  orang tua terhadap anak-anaknya.

Sesal kemudian tak lagi berguna. Inilah yang menimpa sebagian orang tua sebagai tebusan atas kelalaian mereka terhadap perkembangan anak-anaknya.

Hari ini perkembangan teknologi dan kecepatan informasi menjadi salah satu tantangan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Di sisi lain, sebagian orang tua menganggap membelikan anak gadget mewah atau smartphone canggih bisa membantu mereka dalam mengatasi anak-anak terutama di rumah.

Ragam alasan bisa disebut atas tindakan itu. Mulai dari sarana komunikasi dengan anak, membuka wawasan dan memudahkan pengetahuan, agar anak tidak gagap teknologi, dan seterusnya.

Sejatinya, tak ada yang keliru dengan sejumlah alasan tersebut. Sebab perkembangan zaman boleh jadi menuntut demikian.

Cuma hal itu bisa menjadi senjata makan tuan jika ternyata anak diserahi kebebasan sepenuhnya tanpa ada pendampingan dan pengawasan dari orang tua.

Untuk itu, wahai orang tua pulanglah sejenak ke rumah. Setidaknya, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak-anak. Libatkan mereka dengan meminta pendapat dalam urusan dan persoalan mereka.

Jalinlah kedekatan dengan anak.  Rebutlah hatinya. Tuntunlah mereka menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Ingatlah, uang bisa dicari, sedangkan anak tak bisa terbeli.

  1. Asah kepekaan terhadap lingkungan.

Karir yang melejit atau kesibukan yang padat di luar rumah bukan alasan bagi orang tua untuk lalai dalam mendidik anak-anaknya. Atau menjadikan orang tua tidak peka dengan keadaan yang terjadi di sekitar.

Sebaliknya orang tua dituntut untuk mengenali bahaya yang mengancam pendidikan dan kepribadian anak. Pelajari dan carilah sebab sekaligus solusi dari pengaruh buruk dan bahaya tersebut.

Sebab tak jarang, anak-anak yang bermasalah itu berawal dari hilangnya kepekaan orang tua terhadap lingkungan yang ada di sekitar anak.

  1. Ceritakan kisah kaum Nabi Luth dan sejarah lainnya.

Penyakit yang sama pernah terjadi sejak masa silam, tepatnya di kalangan kaum Nabi Luth. pernah merebak beberapa puluh tahun silam.

Akibat bahaya yang ditimbulkan, Nabi Luth beserta orang beriman yang taat lainnya diungsikan keluar dari negerinya. Hingga akhirnya Allah menimpakan azab yang keras kepada negeri tersebut.

Pelajaran terbesar dari kisah di atas adalah penyakit Lesbian, Homoseksual, Biseksual, dan Transgender (LGBT) adalah virus menular.

Tidak hanya merusak moral dan menciderai akidah, tapi juga berpotensi mengundang “cuma-cuma” siksaan Allah di dunia dan akhirat.

  1. Panjatkan doa kepada Sang Maha Penjaga.

Berdoa adalah senjata keluarga Muslim yang tidak dimiliki selain mereka. Berdoalah kepada Allah Zat Maha Penjaga.

Jangan pernah berputus asa untuk mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi diri dan keluarga serta saudara seiman lainnya.

Allah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang sanggup menyembuhkan segala jenis penyakit tersebut.

Menjauhkan kaum muslimin dari segala fitnah dan marabahaya yang mengancam. Sebagaimana hanya kepada Allah pula seorang hamba memohon rahmat dan ma’unah-Nya dalam kehidupan ini