Kisah Amr Meraih Surga Dengan Kaki Pincang

gal781780541-2xoca7tahvmpuftrnkpt6o

Meski terlambat mendapatkan hidayah, Amr bin Jamuh tak mudah menyerah. Usianya yang telah lanjut di kepala enam dengan kondisi kakinya yang pincang tak menghalangi Amr untuk berjihad membela agama Allah dan rasul-Nya.

Dikutip dari buku 101 Sahabat Nabi yang ditulis Hepi Andi Bastoni, Amr bin Jamuh dikatakan ikut menyiapkan diri untuk bergabung dengan pasukan Islam. Melihat keadaan Amr yang lanjut usia dengan cacat dikakinya, tiga putra Amr melarang. Nabi pun member keringanan kepada Amr untuk tidak ikut berperang. Dengan kecewa, Amr menetap di Madinah.

Saat Perang Uhud terjadi, tiga putra Amr yakni Mu’awadz, Mu’adz dan Khalad kembali siap berperang. Amr pun memaksa tiga putranya agar tidak kembali meninggalkan dia. Seperti ketika Perang Badr, putra-putra Amr kembali menolak. Dia memohon ayahnya untuk beristirahat di rumah.

Tidak mau terima, Amr pun menemui Rasulullah SAW. Dia mengungkapkan kepada Nabi bahwa tiga putranya menghalanginya untuk berbuat kebajikan. Berjihad di jalan Allah. “Wahai Rasulullah, putra-putraku melarangku untuk berbuat kebajikan. Mereka keberatan jika saya ikut perang karena sudah tua dan pincang. Demi Allah, dengan pincangku ini, saya ingin meraih surga.”

Harapan Amr akhirnya dikabulkan Rasulullah. Nabi mengizinkan Amr untuk ikut ke medan laga. Amr pun mengambil peralatan perangnya sambil berjalan berjingkat-jingkat. Dia pun mengiba kepada Allah SWT. “Ya Allah, berilah saya kesempatan untuk memperoleh syahid. Jangan kembalikan saya kepada keluargaku.”

Ketika perang berkecamuk di bukit Uhud, kaum Muslimin terpencar. Amr bin Jamuh tetap berada di garis depan. Dengan pedangnya, dia melompat sambil berjingkat. “Saya ingin surga! Saya ingin surga!”

Apa yang didambakan Amr akhirnya terwujud. Pemuka Madinah itu akhirnya tewas dalam keadaan syahid bersama para syuhada Uhud. Sesuai perintah Rasulullah, Amr dimakamkan dalam satu liang bersama jenazah Abdullah bin Amr bin Haram. Semasa hidupnya, dua orang itu adalah sahabat setia yang saling menyayangi (Dalam riwayat lain disebut dengan putranya, Khalad bin Amr).

Setelah 46 tahun berlalu, tanah pemukiman itu dilanda banjir. Kaum Muslimin pun terpaksa memindahkan kerangka para syuhada, termasuk kuburan Amr bin Jamuh.  Kala itu, Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram masih hidup. Jabir pun memindahkan kerangka ayahnya bersama kerangka Amr. Mereka pun mendapatkan jenazah Amr dan Abdullah dalam keadaan utuh. Tidak sedikit pun bagian tubuh mereka yang dimakan tanah