Melucu Boleh Tapi Tidak Untuk Berbohong

88berbohong

DI ERA modern, utamanya di dunia politik saat ini, umum kita mendengar istilah pencitraan. Jika merujuk pada arti kata dasarnya, ‘citra’ yang berarti gambaran yang dimiliki orang banyak (publik) mengenai pribadi, organisasi, perusahaan ataupun produk, maka pencitraan bisa dipahami sebagai proses untuk menggambarkan kebaikan-kebaikan pada diri seseorang, organisasi, perusahaan atau pun produk.

Seandainya upaya pencintraan tersebut memang apa adanya alias jujur, tentu tidak ada masalah. Akan tetapi, jika pencitraan itu sejatinya jauh panggang dari api, maka hal seperti itu bisa menjerumuskan manusia pada praktik kebohongan, yang dalam Islam ini jelas tidak bisa disepelekan atau diremehkan.

Sebab, berbohong, bagaimanapun itu dianggap dan mungkin memang dirasakan memberikan keuntungan, pada hakikatnya sama sekali tidak ada keuntungan yang diperoleh. Di sisi lain, kebohongan mengantarkan pelakunya pada neraka, sebesar apapun harapannya untuk hidup bahagia.

“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan, sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim).

Muslim yant taat, entah ia sebagai pemimpin, pengusaha, politisi, birokrat, karyawan sampai buruh sekalipun, tidak akan pernah mau, apalagi sampai suka rela untuk melakukan kebohongan-kebohongan. Sebab, cepat atau lambat, kebohongan pasti menjerumuskan pelakunya pada kesengsaraan besar, baik di dunia, lebih-lebih di akhirat.

Perbuatan orang Kafir

Berbohong atau berdusta, sesungguhnya tidak akan dilakukan kecuali orang-orang yang kafir.

Sebagaimana Allah Ta’ala jabarkan dalam firman-Nya,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl [16]: 105).

Menurut Ibn Katsir di dalam tafsirnya, manusia jenis ini (yang suka melakukan kebohongan) tidak akan mendapatkan petunjuk menuju iman kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya serta apa yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu alayhi wasallam.

Dan, kelak di akhirat, manusia jenis ini akan mendapat siksaan yang menyedihkan lagi menyakitkan.

Artinya, amat disayangkan, apabila Allah telah memberikan kita hidayah, sehingga memilih Islam sebagai jalan hidup, namun disaat bersamaan, atas nama kepentingan sesaat, kita merelakan diri sendiri menjadi pembohong. Sebab, jika itu dilakukan, apalagi yang membedakan kita dengan orang kafir selain sekedar status belaka?

Tanggung Jawab Ulama

Apabila kebohongan, dengan berbagai macam istilah yang digunakan sebagai kedok belaka sudah merajalela. Kemudian pada hakikatnya, semua orang sudah menyadari, namun terus dibiarkan terjadi, maka Allah akan mempertanyakan posisi dan peran ulama.
Sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh kaum Yahudi yang sangat gemar pada perbuatan dosa, namun para ulama kaum Yahudi membiarkannya begitu saja.

لَوْلاَ يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ الإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu” (QS. Al-Maidah [5]: 63).

Ibn Katsir menerangkan, ulama yang dimaksud adalah ulama yang memiliki posisi kekuasaan atau mempunyai jabatan (rabbaniyyun). Sedangkan Al-Abbar adalah ulama saja.

Dan, bersumber dari ayat ini, Adh-Dhahak berkata, “Di dalam Al-Qur’an tidak terdapat ayat yang lebih saya takuti dari pada ayat ini, karena kita (mendakwahi untuk) tidak melarang (hal tersebut)”.

Dengan demikian, para ulama dengan berbagai jenjang dan posisinya, harus terus mengedukasi umat untuk tidak meremehkan kebohongan-kebohongan. Sebab, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk bahwa ulama harus berada pada baris terdepan dalam memberantas kebohongan.

Bohong yang Diremehkan

Seringkali, manusia mudah lalai, sehingga tidak jarang terjerembab pada praktik kebohongan, yang sangat mungkin kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Pertama, memanggil anak kecil untuk dikasih sesuatu padahal ia tidak punya yang dijanjikan tersbut. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu.

“Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Lalu ibuku memanggilku, “Hai kemarilah aku kasih kamu. Kemudian, Rasulullah bertanya, “Apakah sebenarnya kamu tidak ingin memberinya?”

Ibuku menjawab, “Aku akan kasih dia kurma.” Lalu Rasulullah bersabda, “Adapun jika kamu tidak memberinya apa-apa maka dicatat atasmu perbuatan dusta.” (HR. Abu Dawud).

Jika terhadap anak kecil saja, kebohongan tetap dinilai dusta, bagaimana jika janji itu kepada seluruh rakyat Indonesia?

Kedua, menyampaikan apapun yang didengar dari orang tanpa tabayyun. “Cukuplah seseorang dianggap berdusta kalau dia menyampaikan setiap yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Ketiga, berbohong untuk melucu. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Keempat, berbohong saat bercanda.

“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, mari mawas diri, jangan sampai tanpa sadar kita melakukan kebohongan, meskipun itu terhadap anak-anak. Sebab, Allah tidak melihat kepada siapa kita berbohong, tetapi kenapa kita masih juga tidak mau berhati-hati dan lebih suka berbohong