Tekun Beribadah Dengan Mengagendakan Diri

Akan tetapi, watak dasar manusia adalah cepat lelah dan mudah sekali bosan. Untuk, itu Islam sebagai jalan hidup memberikan panduan yang sangat manusiawi, terutama dalam soal ibadah. Allah tidak menuntut melebihi kemampuan manusia dalam hal ibadah, tetapi ahsanu amala, yakni yang terbaik yang bisa kita lakukan (QS. 11: 7 & QS. 67: 2).

Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan, utamanya dalam tafsir QS. Al-Mulk [78] :2) bahwa yang dimaksud paling baik amalnya disandarkan pada apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Ajlan, yakni bukan pada jumlahnya atau banyaknya, tetapi kebaikannya.

Lantas, apa tolok ukur amalan terbaik itu di sisi Allah dan Rasul-Nya? Hal ini dijelaskan dalam satu hadits.

“Hendaklah kalian tekun beramal sesuai dengan tingkat kemampuanmu, karena sesunguhnya Allah tidak akan pernah merasa bosan {menerima amalmu) hingga kalian (sendiri) yang merasa bosan. Sebab, sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilaksanakan dengan terus menerus kendatipun sedikit.” (HR. Ahmad).

Dalam keseharian Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam memang tidak melakukan suatu ibadah melainkan senantiasa ditekuninya secara istiqomah. Beberapa di antaranya sholat tahajjud, sholat sunnah fajar, sholat dhuha, termasuk membaca istighfar antara 70 – 100 kali. Beliau senantiasa melakukannya sepanjang hayat.

Dengan demikian, sejatinya sangat mudah dan nyaman menjadi Muslim itu. Karena Islam tidak menuntut sesuatu yang diluar kemampuan kita. Dan, dengan kita menekuni suatu amal ibadah dengan sendirinya kita akan terlatih untuk menata diri, menata waktu dan menata hati.

Dengan demikian, dunia tidak akan mendominasi cara berpikir kita, meskipun sebut saja, setiap hari kita hanya mendalami satu ayat Al-Qur’an, lalu mengamalkan, mengajarkan dan mendakwahkannya. Seperti hukum air menetes yang terus menerus, bongkahan batu pun akan terlubangi. Demikian pula halnya dengan ibadah yang dilakukan secara tekun meski sedikit.

Beribadahlah semampu kita, lalu teknulah dalam mengamalkannya. “Laksanakanlah ibadah sesuai dengan tingkat kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan (menerima amalmu) sampai kalian (sendiri) yang merasa bosan.” (HR. Thabrani).

Tips agar Tekun

Setiap Muslim tentu sepakat bahwa ibadah itu perlu, baik, penting dan utama. Namun demikian untuk bisa tekun dalam hal ibadah bukanlah perkara yang mudah. Untuk itu, karena ini adalah harapan Allah dan Rasul-Nya, sudah semestinya kita berusaha untuk tekun dalam hal ibadah meski mungkin tidak banyak atau besar.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan semangat atau motivasi untuk senantiasa tekun atau konsisten dalam ibadah? Kita bisa melakukan beberapa langkah berikut.

Pertama, menumbuhkan rasa cinta dalam beribadah. Orang umum mengatakan tak kenal maka tak sayang. Demikian pula dalam ibadah. Jika dalam keseharian tidak ada amal ibadah yang kita upayakan untuk terus kita lakukan secara konsisten, maka sangat mungkin tidak akan muncul kecintaan dalam hati. Ketekunan akan memunculkan kecintaan. Sebab manfaat itu hanya akan hadir dari upaya yang tekun.

Mengapa sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam banyak yang berakhlakul karimah dan hafal Al-Qur’an? Karena dalam belajar Al-Qur’an para sahabat tidak melakukannya kecuali dengan mempelajari 10 ayat, 10 ayat. Dan, mereka tidak menambah pelajaran, kecuali telah memahami dan mengamalkannya.

Dengan kata lain, untuk bisa tekun dalam hal ibadah kita harus menumbuhkan rasa cinta dengan melakukannya secara terus menerus sembari memperdalam alasan, manfaat dan harapan dari setiap ibadah yang kita lakukan. Orang jawa punya istilah, trisno jalaran soko kulino (cinta datang karena kebiasaan).

Misalnya, Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam tidak pernah meninggalkan sholat sunnah fajar, mengapa? Ternyata dalam hadits disebutkan karena pahala dari dua rakaat tersebut lebih baik dari dunia dan seluruh isinya.

Kedua, membudayakan kedisiplinan. Luar biasanya ajaran Islam adalah bisa menjadikan setiap Muslim yag tekun dalam mengamalkannya menjadi pribadi yang disiplin. Bagaimana mungkin seorang Muslim akan terlambat dalam satu urusan pagi hari, jika ia konsisten tahajjud atau sholat sunnah fajar setiap hari.

Bagaimana mungkin seorang Muslim mengatakan tidak terus bertambah keimanannya hanya karena faktor padatnya pekerjaan. Sementara ia senantiasa konsisten membaca, memahami dan mengamalkan kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Jadi, harus dipahami bahwa ibadah dalam Islam, tidak saja memberikan balasan kemuliaan di akhirat, tetapi juga kemampuan diri hidup secara disiplin. Dan, bisa dibayangkan apa yang akan diraih dari orang yang disiplin dalam kebaikan bukan?

Dengan demikian, mari agendakan dalam diri kita masing-masing untuk benar-benar serius dalam mengamalkan ajaran Islam ini dengan sebaik-baiknya secara tekun. Dan, jika ini berhasil menjadi agenda utama kita, insya Allah tidak akan ada waktu yang terbuang percuma. Sebab, kita selalu punya agenda ibadah yang harus dilakukan secara tekun, terus menerus. Wallahu a’lam