Waspadai Latahmu Menuju Maksiat!

latah

SETIAP insan mempunyai karakter yang berbeda-beda. Baik itu dalam hal kebaikan maupun keburukan. Dalam menempuh perjalanan hidup di dunia fana ini, seorang manusia pastilah memiliki prinsip tersendiri. Lantas apa engkau teguh dalam pendirian itu?

Tak dapat dipungkiri. Banyak di antara kita terlanjur latah. Ikut-ikutan teman asal satu tujuan, peminatnya bejibun … tanpa menimbang apa risiko ke depan kan ditanggung diri sendiri. Ah, bukankah itu sama saja menggolongkan diri ke dalam jiwa yang lemah?
Bangun! Yang nanti akan merasakan timbal balik bukan orang lain, melainkan kita… Kawan.

Ada teman mengajak untuk mengikuti kajian yang biasa ia hadiri malah ditolak. Bilangnya capek, lagi sibuk, punya acara lebih penting dengan teman-teman mengasyikan katanya, atau alasan paling sederhana ‘MALAS’. Ya, itu alasan cukup mujarab sebab si pengajak pun enggan bersanding dengan orang yang raganya ada saat kajian tapi jiwa entah melayang kemana.

Lain cerita bila diajak maksiat. Handphone bergetar hebat, nama pujaan hati terpampang. Mengajak bertemu di lorong sepi. Hati melonjak kegirangan. Setan menghasut sana-sini. Teringat saja cerita kawan yang telah melewati hal tersebut. Kalimat setuju mendayu-dayu akhirnya terkirim patas via sms. Loh loh loh, mau ngapain di sana aa, teteh… Padahal sebelumnya giat menyuarakan “Harga diri tak bisa digadaikan oleh apa pun.” Lah ke lorong sepi untuk apa?

“Bahkan andai seseorang daripada mereka berzina di tepi jalan, niscaya ada antara kamu yang akan menirunya.” (Riwayat Al-Hakim)

Naudzubillahi mindzalik. Semoga kita tak termasuk di antaranya. Coba engkau cermati baik-baik pesan ini, “Seseorang yang tidak memiliki prinsip hidup, pasti akan terombang-ambing tak tahu arah. Layaknya sebuah perahu yang mengarungi lautan tanpa layar.” Saya hanya bermaksud mengingatkan, tak ada niatan lain. Alhamdulillah bila diterima, bila tidak juga tak masalah. Semua kembali kepada diri masing-masing.