Bertaubatlah Para Pengompor Nikah Dan Poligami!

DOK. Sholihah.web.id

Oleh:
Aab Elkarimi*
Sebuah kekhawatiran muncul tatkala saya mencoba membangun hubungan kebangkitan dengan murungnya para pejuang yang semakin terseok dan kadang alay. Akan halnya menjadi sebuah bencana manakala  fokus utama berupa misi dasar kebangkitan manusia tergeser oleh hal-hal kecil yang terlalu dieksplorasi, sehingga muncul potensi yang berbahaya dan membahayakan. Potensi bahaya yang lahir ini menariknya bukan karena hal-hal mengerikan yang melanggar hukum syara, melainkan hal-hal sunnah --tentu bernilai ibadah-- namun diperlakukan secara tidak tepat.
Menikah. Satu perbincangan yang tak pernah selesai dikalangan barisan pemuda dan bapak-bapak, yang selalu ramai, sensitif, dan memiliki porsi tinggi. Karena bagaimanapun hal ini menyangkut potensi dasar manusia berupa naluri berseksual/melanjutkan keturunan yang tak mungkin dihilangkan.
Bertolak dari realitas yang goyah, saat AADC kembali menggema dengan 3 juta pemirsa, menjadi raja dan idola, diperbincangkan … dan atas nama cinta gelora-gelora kuncup merah jambu bersemi menghiasi lini masa. Kita tak kan pernah tahu ada berapa ratus ribu generasi muda muslim yang mulai bersembunyi main-main terjangkit virus dan ngebet nikah. Berdalih ta’aruf namun mengoplosnya dengan ideologi cinta sekuler. Sementara nasib dunia Islam bagaimana ya ikhwah!?. Belum juga hal ini selesai, para bapak-bapak muda yang baru menikah dan para orang tua yang berhasrat poligami begitu menggebu memproduksi jenis-jenis propaganda baru dan kreatif. Porsi status propaganda yang canggih itu mampu menghasilkan viral melebihi dentuman bom Suriah dan tragedi kenestapaan umat Islam yang seharusnya mendesak kita sikapi.
Tentu saja saya tidak ada niatan sama sekali untuk menghentikan perjuangan menuju gerbang pernikahan maupun poligami. Silahkan! Dan jika mungkin akan saya bantu. Saya juga tak ada niatan untuk menyinggung para penulis dan ustadz-ustadz yang secara sungguh-sungguh menggali dalil dan berupaya keras merumuskan rumah tangga yang ideal di tengah arus hidup materialism-sekuler yang biadab. Ini hanya untuk para pegiat sosmed yang menyalakan kompor tanpa keterangan apapun. Para propaganda yang tak bertanggung jawab yang jika kita hubungkan dengan keterpurukan dunia Islam agaknya porsi ini sedikit tak beradab.
Bersikap Proporsional
Saya berpikir, bukankah memang sudah semestinya pilihan yang diambil sebagai seorang muslim dalam melihat problematika kontemporer harus segera kita pungkaskan dalam satu pembahasan bahwa problematika ini berhujung pada tidak diterapkannya syariat Islam secara penuh. Itu saja!. Dan pergolakan, perjuangan, militansi gerak, dan propaganda seharusnya tercurah pada permasalahan inti; berupa penegakan kembali institusi yang menerapkan syariat Islam secara totalitas, yaitu khilafah. Tentunya mental-mental petarung yang meletakan dirinya sebagai pihak perubah dan bukan pihak yang mudah berubah menjadi penting untuk kita perhatikan. Inilah sebuah keutamaan.
Tersebarnya virus merah jambu yang dieksploitasi oleh ketidaksengajaan kita dalam men-share berita ternyata berhujung pada propaganda yang membentuk perputaran cepat diribuan kepala pemuda muslim yang masih lajang dan para bapak-bapak yang beristri satu bahwa mereka harus segera menikah (lagi). Tentunya ini menjadi bahasan tersendiri untuk kita garis tebal. Pasalnya, potensi terbesar tampuk perubahan jika kita kaji secara historis maupun lewat kajian empiris ternyata masih mungkin direbut kembali oleh generasi muslim saat ini. Dan peradaban Khilafah itulah fokus propaganda kita.
Sekali lagi ini hanya terkait adab. Sebuah tindakan yang porsinya harus kita sesuaikan dengan keadaan kita saat ini yang terpuruk. Jadi hentikanlah propaganda! Bukankah Allah mendengar apa yang kita inginkan? Berdoalah, belajarlah, persiapkanlah!.
Bertaubatlah Para pengompor!
Adakalanya ketika sesuatu itu benar secara hukum, perlakuan kitalah yang membuatnya menjadi kacau, yaitu saat kita tidak bisa membaca situasi dan gagal menempatkan persoalan. Soal propaganda nikah, rasa-rasanya suatu hal yang tak mesti kita lakukan dalam kondisi saat ini. Saat kekalutan yang diciptakan peradaban sekuler telah menggerogoti pergaulan remaja dengan realitas yang cukup menampar muka, menghabisi nalar dengan data yang cukup mencengangkan, justru aborsi yang sudah mencapai angka lebih 2,5 juta dan jumlah perzinahan sudah membumbung tinggi inilah yang seharusnya menempatkan kita pada puncak pemikiran bahwa permasalahan multidimensi ini harus menempatkan kita fokus bergerak melawan pongkol masalah, yaitu perjuangan penegakkan syariat Islam. Dan lagi-lagi soal propaganda menikah, sekali lagi dengan hati-hati saya katakan bahwa saya bukan menolak menikah, namun menolak propaganda menikah. Alasan terbesar yang saya sampaikan adalah pertama, akidah kita yang masih kacau, kedua, kondisi yang tidak ideal.
Propaganda menikah akan tepat ketika kondisi keimanan masyarakat sudah kuat karena ada penjaganya berupa pemerintah yang takwa, sehingga motivasi menikah bukan lagi soal paras dan kemolekan tubuh, melainkan lillahi ta’ala. Dan perlu diingatkan kembali bahwa bicara niat dan motivasi kita dalam melakukan aktifitas tidak segampang mengedip-ngedipkan mata, kita akan dihadapkan pada kompleksitas bahasan, terlebih menyangkut metode berpikir, asas berpikir, dan terintegrasinya alur berpikir yang saat ini semua itu hampir dikuasai penuh oleh kapitalisme-liberal dengan asas dasar sekulerisme-materialisme. Lalu apa jadi ketika akidah pemuda masih berantakan, kemudian karena propaganda ia menikah dan melahirkan keluarga yang berantakan? Menyalahkan nikah muda? Saya rasa terlalu naïf! Karena menikah bukan persoalan usia, pekerjaan, dan strata kasta. Bagi para pemuda yang telah beres mendefinisikan keberadaan dirinya dan menyadari keterikatan dengan hukum syara, mereka sangat tidak membutuhkan propaganda. Dengan kesadaran yang berbalut ketakwaan mereka akan mempersiapkan diri dengan sendirinya karena sadar bahwa apapun yang dilakukan harus berusaha menggapai ridho Allah, begitupun dalam persoalan menikah.
Terakhir saya berpesan pada provokator nikah dan poligami, mohon dengan segenap hati yang paling dalam, hentikan propaganda nikah dan alihkan semuanya pada perjuangan yang mengkrucut untuk diterapkannya Islam secara total. Mari bersama bereskan arena tempur, agar kita bisa lebih waspada membaca musuh, lebih detail dalam merinci hambatan, dan lebih tepat dalam memperhitungkan peluang.

Cukuplah persoalan menikah selesai dalam pembahasan hukum syara dan potensi yang dimiliki manusia, tidak perlu dipropagandakan. Karena kompor yang dinyalakan tanpa ada pengawasan berkemungkinan melahap dan membuat kebakaran. Tak perlu ada pengompor!.[]

*Pemimpin Redaksi Sholihah.web.id