Jangan Sampai Lebih Cepat Dari Cahaya

DOK. Sholihah.web.id
Oleh:
Aab Elkarimi*

Jika ada pertanyaan “Apa yang lebih cepat dari cahaya?” Jawabannya “Orang idiot yang share berita hoax”. Begitulah kurang lebih isi komentar dari status facebook yang tak sengaja saya temukan siang tadi. Menampar. Nggilani. Tapi benar juga.

Memang tak bisa ditampik jika saat ini kita hidup di era revolusi informasi yang kalau meminjam istilah Danesi sering disebut sebagai "galaksi Guttenberg". Sebuah era dimana informasi berhamburan, membludak dengan cepat, saling tumpuk dan berisik. Namun tatkala bicara validitas dan klarifikasi, jangan berharap banyak punya ruang.

Banyak kasus yang hampir sudah tak bisa kita dokumentasikan lagi. Pasalnya siapa yang peduli dengan hantaman berita-berita alay dengan judul “Inilah 10 macam blah blah blah..”, “Share jika anda peduli”, “Beginilah cara blah blah…”, “Nomer 4 gak nyangka”, ”Subhanallah, Ternyata Selama Ini bah blah blah…” yang secara senyap sering kita intip dan kadang tanpa ragu kita bagikan?. Siapa yang peduli soal kebenaran?.

Nyaring dan berisiknya media saat ini jauh-jauh hari telah coba saya deskripsikan dalam buku saya bahwa,

“Berisiknya media saaat ini secara sendirinya membuat semacam tumukan-tumpukan yang berisi apa saja, dioplos dalam satu ruangan, dibiarkan bebas, dan hanya diberi sedikit lubang ventilasi untuk ngongol mengklarifikasi.”

Dan realitasnya memang demikian. Bahkan di lapangan jauh lebih mengerikan.

Tapi ada satu catatan tebal bagi kita bahwa fakta tidak bisa dan haram dijadikan objek dalam berpikir. Maksudnya, jangan sampai karena fakta membuktikan bahwa informasi hoax sudah tidak bisa dibendung lantas kita diam saja dan menerima, atau berpikir namun dalam kerangka fakta yang sama saja, seolah keluar dari hal ini adalah ketidakmungkinan. Respon semacam ini hanyalah diperuntukan bagi orang-orang malas dan  tentu bukan tabiat seorang muslim. Lagi pula Allah sudah jelas berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”
(QS. Al Hujrat: 6)

Saya melihat kecenderungan kita saat ini dalam memilah informasi hampir tidak mempunyai cita rasa tinggi, terlebih pada informasi berbasis teks. Hanya utuk memilah mana kalimat fakta dan mana kalimat opini saja kita kadang terkecoh dan amburadul. Apalagi membawa pembahasan ini pada kaitan ideologi, melancarkan hegemoni dan membentuk wacana.

Jadi wajar saja jika soal share berita hoax, cepatnya kilatan cahaya berada di bawah kita. Hore![]

*Pemimpin redaksi Sholihah.web.id