Mencari Titik Temu Liberalisme Dan Gagang Cangkul

DOK. Sholihah.web.id

Oleh:
Aab Elkarimi*

Sholihah.web.id, Sewaktu saya kecil bayangan tusukan besi panas dari dubur hingga keluar di kepala adalah bayangan mengerikan yang saya dapat dari ayah tentang salah satu siksa neraka. Namun kini bulu kuduk berdiri tegak memperhatikan berita yang berseliweran tentang kasus Eno, remaja yang diperkosa hingga meninggal dengan cara ditusuk gagang cangkul dari kemaluan sampai tembus paru-paru. Gagang cangkul yang normalnya sepanjang 65 cm itu dengan gagah masuk sedalam 60 cm dan hanya menyisakan 5 cm. Ngeri. Biadab!.

Siapa yang tak bersikap dengan hal ini? Semua sepakat dan satu suara bahwa pelaku pantas dihukum mati.

Namun bila kita berpikir maju dan teratur, sikap kita tak akan mati hanya sampai hujatan dan penolakan tidak setuju. Alangkah pantas dan anggun manakala sikap tidak setuju kita diejawantahkan dengan upaya mencari solusi. Nah, kalau sudah demikian akan nyambunglah sewaktu saya katakan bahwa beragam fenomena kekerasan seksual yang merenggut nalar dan menghasilkan efek kejut secara berlebih ini tidak kita temukan kecuali di alam kebebasan yang berdiri tegak di atas sistem demokrasi kapitalisme sekuler. Tak bisa dipungkirinya hal ini karena dalam menganalisa kekerasan seksual dengan korban yang terus menerus berjatuhan ini variabel yang digunakan akan cukup kompleks. Dalam kacamata parsial seolah akan benar jika penyebab kekerasan seksual akibat dari pengaruh pornografi, namun di sisi lain juga akan kita amini bahwa hal ini juga buah dari pengaruh pendidikan orang tua, kenakalan remaja, pacaran/gaya hidup bebas, hingga akan sampai pada ketiadaan peran pemerintah. Dan banyaknya variabel ini sesungguhnya merupakan bagian-bagian tercecer (sub sistem) yang menghuni sebuah sistem. Tentu jika kita berupaya serius untuk menarik alur secara sistematis akan sampai pada bahasan bahwa semua ini akibat kegagalan sebuah sistem.

Sebagai misal kasus gagang Cangkul yang berawal dari pacaran dengan sang pelaku disinyalir besar mengidap kelainan seksual akibat dari tontonan pornografi. Namun bukankah tidak bisa berhenti secara nanggung di sini? Pertanyaan lanjutan yang seharusnya hadir adalah mengapa pornografi sangat mudah diakses? Mengapa erotisme menjadi komoditas? Mengapa orang tua hampir tidak peduli membangun pondasi Islam pada anak selain hanya cemas masa depan anak yang miskin? Mengapa pandangan hidup manusia begitu matre? Mengapa standar baik dan buruk mudah sekali berubah hanya karena dikonstruksi oleh serial-serial televisi? Mengapa pemerintah seolah tidak peduli?. Pertanyaan-pertanyaan ini (meskipun tak terlalu runut) merupakan alur yang akan mengarahkan kita bahwa kekerasan seksual adalah buah dari kegagalan sistem. Lantas sistem pergaulan apa yang diemban masyarakat modern saat ini? Jawabannya Liberalisme. 

Dari sinilah saya berani memandang bahwa bahasan kekerasan seksual ini akan sangat merepotkan tatkala kita membahas pada satu bidang yang bersifat parsial, misal pornografi. Tentu saya sangat setuju dan saya juga ikut menyuarakan tentang bahaya pornografi. Anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan semua teman kerabat kita sudah sepantasnya kita peluk erat-erat jangan sampai terjerumus pada pornografi. Itu sikap saya selaku individu muslim. Namun sebuah sikap yang harus muncul juga adalah sikap kita sebagai umat. Dimana sikap ini akan mengarahkan pada kepedulian untuk menghentikan tindakan nista tersebut agar peradaban suatu umat menjadi lungsur langsar, selamat.

Kepedulian kita dalam mencari solusi kekerasan seksual dengan kacamata sistemik akan dengan sendirinya mengarahkan kita pada ‘Nidhom Ijtima’I fil Islam’ yaitu sistem pergaulan hidup dalam Islam. Sebuah kepaduan yang di dalamnya terdapat bagaimana Islam memandang hubungan antara pria dan wanita yang mutlak infishol (terpisah) kecuali dalam beberapa hal. Akan kita temukan juga bagaimana orang tua menanamkan bahasan aurat hingga ranjang yang harus dipisah. Namun karena pembicaraan ini pada ranah sistem, tentu dibutuhkan sebuah Negara yang menjalankan sitem ini yang tak akan bisa kecuali dengan mengambil juga akidah dari sistem. Misal peran pemerintah dalam hal menghentikan pornografi, sosialisasi keharaman zinah dan ikhtilat, memisahkan laki-laki-perempuan, ataupun memudahkan menikah, tidak mungkin bisa berjalan dengan akidah sekulerisme. Sistem pergaulan hidup dalam Islam ini hanya bisa terlaksana di tangan Negara yang juga mengambil akidah Islam sebagai akidah sistem pergaulan hidup.


Sehingga menjadi jelas setelah kerangka ini djabarkan bahwa titik temu antara liberalisme dan gagang cangkul ini bukan titik temu dalam bentuk yang setara, melainkan titik temu antara masalah dan turunan dari masalah. []

*Pemimin Redaksi Sholihah.web.id