Mengembalikan 'Sem*ak Pink' Pada Denny Siregar

DOK. Sholihah.web.id

Oleh:
Aab Elkarimi*

Sholihah.web.id, Jika diantara pembaca pernah mendapati tulisan Denny Siregar berjudul 'Ada PKI Di Sempak Pink HTI' yang diposting Kamis (12/05), inilah alasan besar lahirnya tulisan ini. Tulisan ini sekedar ritual mengembalikan barang yang bukan milik kita dan tentu bukanlah tindakan keliru lagi nista. Lagi pula saya tidak memposisikan diri pada sikap defensif apologetik, sebuah sikap yang diperuntukan bagi orang-orang kalah dan membabi-buta sibuk melakukan pembelaan. Saya hanya ingin mengembalikan barang yang bukan milik saya pada sang empunya dengan cantik dan elegan saja, tentu dengan tetap berusaha agar sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh syara'.

Awal 2016 lalu sebetulnya saya sudah memutuskan bahwa gaya sarkasme dalam tulisan bukanlah sesuatu yang ahsan. Pasca lahirnya buku saya yang pertama yang masih kental dengan aroma sarkasme banyak mendapatkan petuah dan kritik, akhirnya saya sebisa mungkin meredam. Tulisan-tulisan semodel 'Sepiring tai', 'sempak pink', hanya bisa lahir dari lisan-lisan tak terjaga yang Insyaallah sudah saya taubati. Lagi pula masa-masa kelam membuat tulisan itu lahir bukan dari pemikiran yang murni dan jiwa yang hanif, hanya sebatas kepulan asap para ideolog warung kopi yang ngebet ingin diakui. Dan semoga motif bung Denny lebih halal lagi thoyyib dari itu semua.

Khusus teruntuk bung Denny Siregar, seorang 'ulama' kontemporer yang digemari mamah muda nakal dan para ideolog warung kopi, saya berpesan: Ittaqullah! Ittaqullah haqqa tuqatih, wala tamutunna illa waantum muslimuun.  Mari kembali ke jalan yang benar! Dan dari kalimah inilah tulisan ini akan berjalan.

Fakta bahwa saya seorang anggota HTI itu benar adanya, dan saya bangga akan hal ini. Sebuah status yang akan saya jaga manakala tidak ada dalil syar'i yang membantahnya. Sudah barang tentu, status ini dengan susah payah saya lewati pasca menelusuri beragam literatur dari lintas ideologi, merenungkannya, mendiskusikannya, berpikir keras karenanya, hingga lahir keyakinan untuk mengembannya. Dari sinilah saya tahu hakikat kebangkitan serta porsi-porsinya. Barangkali bung Denny tertarik mencicipi, insyaalloh saya bagi kenikmatan ini apalagi sambil cangkrungan dan tidak misuh-misuh di tulisan.

Secara garis besar, mungkin saja bantahan-bantahan yang ngilmiah dan syariah akan malas bung Denny baca (dikarenakan sosok ‘alim’ dan sudah tentu kenyang dalil), maka dari itu saya menghindari. Dan karena ini hanya ritual seremonial pengembalian ‘sempak pink’ yang salah sasaran, maka begini saja.

Sebetulnya analisis yang sama yang digunakan Bung Denny Siregar lebih dulu keluar dari website ini pada 10 mei 2016, hasil wawancara saya dengan salah satu pemerhati gerakan politik, bung Pepei Dwipangga. Silahkan simak disini. Dan tentu, kami sudah mengerti alur apa sebenarnya yang terjadi. Maka ke depan Insyaallah kami baik-baik saja. Allah yang menjamin itu!. Dan sampai sini, saya kembalikan secara resmi ‘sempak pink’ pada Denny. Tetaplah duduk menonton sambil minum kopi, dan biarkan kami sibuk bekerja memperbaiki carut marut negeri. Lebih baik lagi mari berlomba persiapkan bekal sebelum kita mati.[]

*Pemimpin redaksi sholihah.web.id