Meskipun Cobaan Berat Menerpa, Sayyid Qutbh Tak Pernah Menjilat dan Bermuka Dua

DOK. Sholihah.web.id
Sholihah.web.id, Siapa yang tak kenal Sayyid Quthb? Seorang cendekiawan sekaligus syuhada yang karena keteguhannya memegang Islam berakhir dengan gagah di tiang gantungan. Sikap teguh, tak menjilat, pantang membocorkan rahasia, apalagi bermuka dua merupakan karakter dari barisan para pejuang Islam yang mukhlis dan patut untuk dicontoh. Lewat keteguhan Sayyid Quthb, ia berhasil menyulut kesadaran dan menggerakkan gerbong kebangkitan, menjelma menjadi bentuk-bentuk potensi yang terus bekerja dan berjuang, menemukan momentum di seluruh medan pertempuran antara haq dan batil, membela kehormatan dan cita-cita dalam bingkai "Sesungguhnya, masuk dalam agama Islam bagaikan berjabat tangan dalam transaksi jual beli antara penjual dan pembeli ... Allah sebagai pembelinya dan seorang mukmin sebagai penjualnya. Ia adalah transaksi jual beli langsung dengan Allah. Setelah transaksi itu, tidak tersisa sedikit pun sesuatu dalam diri seorang mukmin maupun dalam hartanya ... Demi menjadikan kalimat Allah yang tertinggi dan seluruh agama hanya milik Alah.
Untuk alasan ini pula redaksi Sholihah.web.id kali ini akan mengupas beberapa catatan tegas dan berani dari seorang ulama mukhlis yang memilih mati daripada menyerahkan diri dihadapan rezim tiran. Catatan ini diambil dari bukunya berjudul “Mengapa Aku Dihukum Mati” terjemahan penerbit Kafeyah. Simaklah sepotong kata pengantar yang menggugah, cermin kepribadian Islam sesungguhnya.
Sebelumnya aku telah menulis sebuah penjelasan secara global, yang mana banyak rincian yang tidak aku cantumkan di dalamnya. Selain itu, ada banyak peristiwa dan penjelasan yang juga belum aku sertakan di sana. Sedangkan catatan tersebut telah menimbulkan kesalah-pahaman tentang sikap dan motivasi yang mendorong diriku untuk menulis penjelasan semacam itu. Maka aku berharap, catatan baruku yang lebih rinci ini dapat memenuhi apa yang diinginkan dan dapat memahamkan tentang sikapku yang sebenarnya.
Allah Mahatahu bahwa aku menulis catatan ini bukanlah untuk membersihkan diriku pribadi dari apa yang terdapat dari catatanku yang masih bersifat global tersebut.
Namun harus aku akui, bahwa tujuanku yang paling utama sebelum tujuan yang lainnya adalah aku tengah berusaha melindungi sekelompok pemuda yang telah berjuang bersamaku dalam harakah ini, semaksimal kemampuanku. Karena aku yakin, para pemuda tersebut adalah bagian dari orang-orang yang terbaik di muka bumi pada zaman ini. Mereka adalah 'amunisi' bagi Islam, dan mereka adalah manusia yang haram hukumnya untuk dihancurkan dan dimusnahkan.
Aku yakin, bahwa kelak aku akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah mengenai upayaku untuk menyelamatkan mereka. Sedangkan dalam catatanku yang terdahulu, tidak terdapat berbagai rincian yang dapat aku ingat sekarang ini untuk meringankan beban tanggung jawab mereka, dan tentu saja untuk meringankan diriku juga.
Akan tetapi, Allah Mahatahu bahwa diriku ini tidaklah aku perhitungkan sama sekali, dan aku telah siap memikul seluruh tanggung jawab sejak kata-kata pertama yang aku ucapkan. Dan aku katakan, "Telah tiba saatnya bagi seorang muslim untuk mempersembahkan kepalanya sebagai harga untuk memproklamirkan atas tegaknya sebuah harakah Islamiyah (gerakan Islam) dan tanzhim (organisasi) yang tidak memproklamirkan diri, yang berdiri atas dasar bahwa ia merupakan pondasi bagi nizham Islami (sistem Islam), apa pun cara yang akan dia gunakan untuk itu. Dalam hukum produk bumi, semua ini dikenal sebagai tindak kriminal yang layak untuk dihukum mati!"
Perlu aku jelaskan pada pengantar yang singkat ini. bahwa aku menulis catatan pertama yang bersifat global tersebut dan dengan tujuan sebagaimana yang telah aku paparkan di atas, merupakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Karena seorang muslim yang tertawan oleh musuh, tidak pantas baginya memberitahukan keberadaan tentara Islam lainnya kepada musuh. Dan apalagi membocorkan rahasia-rahasia yang dapat menghancurkan kaum Muslimin, semaksimal mungkin.
Telah  aku  tunaikan  kewajiban  itu  sesuai pemahamanku terhadap Islam sebagai amalan yang aku persembahkan kepada Allah, tanpa aku hiraukan pandangan undang-undang dan lembaga-lembaga buatan manusia.
Akan tetapi, sekarang—dan ini telah aku jelaskan— para pemuda tersebut telah membongkar sendiri perannya masing-masing secara rinci, baik yang bersifat pribadi maupun yang bersifat umum. Dan aku tidak sedikit pun menyinggung tentang data diri mereka. Dengan demikian, telah hilang ganjalan yang ada di dalam dadaku untuk menceritakan segalanya secara rinci, dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menuturkannya sesuai dengan urutan peristiwa. Apabila nanti ada sebagian yang terlewat dari ingatanku, maka bisa ditanyakan atau bisa mengingatkanku dengan pengakuan lima orang pemuda tersebut atau yang lainnya, karena pengakuan mereka memuat persoalan tersebut. Dan urutan waktu itu merupakan sarana yang paling baik bagiku dalam membantu ingatan.
Juga harus aku katakan kepada para penanggung jawab yang menangani kasus ini, bahwa aku tidak menulis kecuali dengan caraku sendiri yang khas... sebagai penulis yang telah menggeluti dunia tulis-menulis selama 40 tahun, dengan cara tertentu yang khas pula.
Dimana sebagian peristiwa harus aku beri komentar ketika menceritakannya, disertai dengan penjelasan mengenai sebab-sebabnya, hal-hal yang mendorong terjadinya, dan kondisi yang berada di sekelilingnya. Sebagian lagi bisa dikisahkan tanpa aku beri komentar maupun catatan apa pun. Dan hal ini terkadang membuat mereka kesal, karena sebenarnya, yang mereka inginkan hanyalah rangkaian kejadian, peristiwa, dan personel organisatorisnya.
Namun demikian, aku tidak akan memberikan catatan kecuali hal yang menurutku penting dan mendesak

Begitulah salah satu sikap kokoh manakala seorang muslim hidup hanya  dengan prinsip Islam. Apapun halang dan rintangan yang menimpa, keperibadian Islam sesungguhnya telah sukses melahirkan para kesatria-kesatria yang pantang bermuka dua  dan menjilat. []Aab