Pepei: Komunisme di Indonesia Hanyalah Barisan Anak Alay Yang Pada Males Solat Doang

DOK.Sholihah.web.id

Sholihah.web.id, Menaggapi isu Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digembor-gemborkan media akan mengancam keutuhan NKRI, pengamat gerakan politik di Indonesia, Pepei Dwipangga, menanggapi dengan santai bahwa PKI yang ada saat ini hanyalah barisan anak alay yang males sholat doang. Hal ini diungkapkan beliau via Whatsapp pada redaksi sholihah.web.id (10/05) mengingat keprihatianan beliau akan maraknya gerakan yang berhaluan ke-kirian terlebih di tubuh gerakan mahasiswa Islam.

Penampakan PKI yang seolah besar dan mengancam ini menurut analisa beliau tidaklah masuk akal. Hal ini dikarenakan bahwa perbincangan tentang peradaban dan usaha-usaha untuk membangkitkan ideologi Sosialisme Komunisme tidak bisa tidak haruslah bersifat Internasional. “Pertanyaannya, kekuatan Internasional manakah yang mengemban Sosialisme Komunisme saat ini yang bisa dijadikan mercusuar kebangkitan Sosialisme Komunisme? Tidak ada satupun!. Rusia jelas sudah lenyap sejak ditelan Glasnot Prerostika. China sibuk menunjukan posisi sebagai Negara kapitalis melawan AS dan Eropa. Korea utara hanya bagian konflik semenanjung korea yang selalu jadi mainan China dan AS. Kuba, Venezuela, Bolivia dan Negara-negara Amerika latin hanyalah euphoria masa lalu yang diangkat melalui tokoh-tokoh pemimpin symbol perlawanan mereka, yang ketika tokoh itu mati, mati juga euforianya”, Tutur beliau.

Dalam sesi diskusi terbatas di salah satu media sosial dengan Bung Pei (begitu sapaan akrabnya), beliau banyak melemparkan pertanyaan seputar fenomena ‘ujug-ujug’ munculnya isu PKI yang tiba-tiba ini, “Bagaimana ceritanya Komunisme di Indonesia digadang-gadang akan bangkit lagi, apalagi hanya karena simbol palu-arit yang bertebaran secara acak, dalam grafiti, kaos, ataupun pin mungil yang dipakai anak-anak muda alay yang sebenarnya pada males solat doang!?”.

Bung Pei menambahkan pula catatan tebal terkait fenomena kemunculan neo-PKI yang marak dan aneh ini. Berikut redaksi sholihah.web.id paparkan analisanya:

Sudah 50 tahun berlalu, PKI menjadi musuh bersama rakyat dan negeri ini, terlepas rekayasa politik apa yang terjadi pada 1965 lalu. Dan selama 50 tahun lebih itu, --khususnya 32 tahun masa Orde Baru—rakyat negeri ini dicekoki bahwa yang berhasil melumat hancurkan PKI adalah ideologi Pancasila yang sakti. Pancasila lah yang tampil sebagai penyelamat dan disakralkan, walau ‘eksekutor’ lapangannya adalah umat Islam (Santri dan Ormas-ormas Islam) beserta ABRI/TNI. Dan kita ketahui, dalam hampir dua dekade pasca reformasi ini, faktanya jargon Pancasila Sakti sudah jarang dimainkan lagi, karena setiap rezim berganti, terlalu asyik sibuk memperkaya diri, menjadi boneka barat serta memeras rakyat selicik-liciknya. Dan ketika rakyat mulai memilih wacana ideologi baru sebagai solusi berbagai permasalahan, munculah wacana Syariah dan Khilafah yang terus menggelindng bagai bola salju.

Singkatnya, kita dalam beberapa bulan terakhir bagai disuguhi atraksi ormas atas nama NKRI harga mati, empa pilar yang Pancasila di dalamnya, ternyata tak sanggup menggiring ormas-ormas lain dan umat Islam Indonesia untuk ikut nimbrung membendung opini Syariah dan Khilafah.


Namun tentu bukan berarti mengkerdilkan ancama PKI, beliau dengan hati-hati menambahkan, “Saya tidak meremehkan Sosialisme Komunisme sebagai mabda’ (ideologi Red.) yang akan terus bertarung menyebarluaskannya. Yang saya tekankan (adalah) pada dongeng kebangkitan PKI melalui penampakan-penampakan absurd yang digadang-gadang sebagai bibit komunisme saat ini d Indonesia. Sama halnya ketika kita memandang harokah yang hendak menegakan Khilafah melalui jalan demokrasi”, Pungkasnya. []Aab