REBUTAN GELAR KAFIR; ANTARA ANTI DAN OVER


Oleh:
Aab Elkarimi*
Istilah kafir saat ini mengalami polarisasi yang unik. Setidaknya terdapat dua kelompok super ekstrim yang muncul dan satu sama lain saling bersahutan. Rebutan. Kubu anti kafir memandang bahwa gelar kafir seharusnya bukan istilah yang harus digunakan meskipun untuk non-muslim, alasannya macam-macam. Mulai dari rentan konflik, perpecahan, murtad dari madzhab NKRI, hingga bahasannya dibawa pada istilah millah Ibrahim yang satu. Dalil mujarab yang senantiasa didzikirkan adalah ‘laa ikraha fid diin’ dan ‘lakum dinukum waliyadin’. Sedangkan kelompok kedua memandang bahwa selain dari manhajnya merupakan golongan sesat, munafik, ahlul bid’ah, bahlul, jahil, kafir!, kafir!, kafir!.
Ini fenomena cukup menarik dan butuh kerja keras mengurai, namun tentu tidak tepat jika tujuannya hanya untuk mencari kubu mana yang terbaik dari keduanya. Pasalnya (pahit untuk dikatakan) kedua kelompok super ekstrim ini telah memicu konflik di tubuh umat Islam. Penelusuran saya selama ini menghasilkan satu sintesa jika dakwah dua kelompok ekstrim ini begitu ofensif terhadap satu sama lain. Taringnya akan menajam dan bersinar tatkala bantah-bantahan soal ‘kafir’ terhadap sesama muslim, namun justru bercengkrama dan diam terhadap non-muslim. Anti kafir memandang bahwa golongan yang mudah mengkafirkan, Islamnya datang dari setan, Islam marah, tidak ramah. Sementara over kafir menyebut yang seperti itu sudah menjadi kafir beneran dan kuadrat pangkat tiga. Dan ini semakin asyik jika kita menonton secara seksama, namun membuat pilu, tersilet, menyanyat. Beuh.
Lantas bagaimana sebenarnya posisi gelar kafir dalam Islam?
Disini saya tidak akan menyebut bahwa pendapat saya adalah pendapat Islam, namun saya berpendapat bahwa pendapat ini pendapat yang Islami yang lahir dari istinbath hukum yang telah melewati proses ketat dari kaidah syara. Dan tentu karena kapasitas saya yang masih kinyis-kinyis, saya tak berani bicara terlalu dalam. Namun dari hal ini sebenarnya terdapat kejelasan yang bukan sekedar konsensus bahwa gelar ‘Kafir’ adalah istilah yang dinisbatkan pada manusia yang tidak mengimani Allah dan Rasul, tidak Islam. Ini mafhum difahami setiap muslim.
Nah kemudian permasalahan bertambah tatkala ada banyak sekali ayat alqur’an dan hadits yang menyebut ‘tarkus sholat’ sebagai kafir, mencampakan hukum Allah juga kafir, dsb. Bagaimana dengan hal ini?. Nah biar memudahkan, ada satu catatan menarik dan ringan dari Ustd. Titok Priastomo terkait posisi kafir, berikut isinya:
Yang umat harus tahu, tidak boleh samar bagi mereka.
Bagaimana hukumnya penguasa yg menolak berhukum kpd Kitabullah dan Sunnah dlm menjalankan kekuasaannya?
Jawabnya, kita tidak bisa mengkafirkannya begitu saja, karena, menurut para ulama yg kita rujuk, mungkin ia jatuh ke dalam satu dari dua kemungkinan:
Satu: jika dia menolak merujuk kpd Kitabullah dan Sunnah karena ia punya keyakinan bahwa keduanya itu tidak layak menjadi rujukan hukum, karena ia yakin ada rujukan yg lebih baik atau lebih layak utk menjadi rujukan ketimbang keduanya, karena hukum yg keluar dari Kitabullah dan Sunnah tidak layak utk diikuti, maka ia kufur, seperti Iblis yg menolak perintah Allah karena beranggapan bhw perintah itu tidak layak.
Dua: jika dia menolak karena hal lain, seperti merasa terpaksa, merasa belum mampu, merasa takut kehilangan kedudukan, merasa takut ancaman musuh, dll, namun dia masih percaya bahwa hanya Kitabullah dan As Sunnah-lah yg layak menjadi rujukan hukum, maka dia dikatakan fasiq dikarenakan dia berdosa setiap kali memutuskan hukum tanpa berdasar Kitabullah dan As Sunnah, dan dikatakan zalim karena tidak memperlakukan sesuatu sesuai dengan ketentuannya yg benar, sebagaimana jelas dlm Surat Al Maaidah ayat 45 dan 47.
Kami tidak berkepentingan untuk menunjuk secara personal bahwa "si fulan kafir" atau "si fulan fasiq". Tidak, itu bukan kepentingan kami. Kami hanya menyampaikan kaidah umum yg penting utk dipahami oleh semua muslim, baik ia penguasa maupun bukan, yaitu hendaknya mereka tahu bahwa berhukum kepada apa yg diturunkan Allah adalah wajib, dan -bagaimana pun kasusnya- mencampakkan Kitabullah dan Sunnah sbg rujukan hukum merupakan pelanggaran yg sangat besar terhadap Islam
Jadi jelaskah? Gelar kafir bukanlah suatu hal yang mesti diperebutkan. Justru yang mendesak adalah bagaimana kita mengubah yang kafir menjadi beriman dan tidak perlu banyak gaya serta macam-macam.
Oh ya, satu lagi saran saya untuk yang anti gelar kafir, mengapa tidak ada niatan mengubah surat Al-Kafirun menjadi tidak kafiruun, mungkin? Apakah takut disebut kafir juga? []

*Pemimpin Redaksi Sholihah.web.id