Sambut Hary Tanoe dengan Shalawat, Ada Apa dengan Santri Kita?

Santri, DOK. Sholihah.web.id
Oleh:
Aab Elkarimi*

Sholihah.web.id, Selasa (10/05), Situs okezone.com memberitakan kedatangan Hary Tanoesoedibjo, ketua umum Partai Perindo, ke pondok pesantren Sunan Giri yang disambut ratusan santri dengan Sholawat ‘ya badrotim’. Ini tak lain dilakukan dalam proses ikhtiyar menggaet sebanyak mungkin calon pendukung untuk pemilu 2019 nanti, sebuah langkah brilian dan ambisius dalam mempersiapkan kantong masa menuju RI 1.

Kiranya tak dapat dipungkiri bahwa kiprah santri di negeri ini terlacak sejarah sebagai jejak raksasa yang andil besar bagi kemerdekaan nusantara dari penjajah. Tak dipungkiri pula bahwa jumlah santri yang besar yang menjadi icon Islam di Indonesia ini menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan tokoh-tokoh politik dalam percaturan memperebutkan sebanyak mungkin simpati publik. Tak terkecuali tokoh non-muslim!. Maka terciptalah ironi baru berkemas toleransi dan pluralisme yang katanya buah dari peradaban modern untuk persatuan dan blah…. Merdeka!.

Jika kita berbincang hakikat santri dan tabiatnya, tak akan lepas dari sosok mulia yang sudah jelas tertera di kitab ta’lim at-ta’lim sebagai kaum yang bahkan tidurnya pun lebih berarti daripada ahli ibadah yang tak berilmu. Karakter santri yang teguh memegang erat nilai Islam tercermin dari sikap sederhana dan tawadhu, hanya takut pada Allah. Inilah yang saya rasakan selama tiga tahun mondok di pesantren tradisional di Sukabumi. Waktu yang ketat untuk menghafal bait-bait al fiyah dan imrity, kajian kitab fathul mu’in, bulughul maram, tafsir jalalain, hingga eksotisme kain sarung beraroma tungku-kastrol merupakan dokumentasi panjang yang hingga kini masih saya bingkai. Meskipun akhirnya saya akui bahwa saya gagal menjadi santri sejati dikarenakan selama tiga tahun itu kitab kuning masih menjadi lawan tangguh untuk ditaklukan.

Namun dibalik rutinitas kesantrian itu, ada momen menarik yang akan terus saya kenang yang bukan lahir dari literasi dan kajian kitab, melainkan dari sosok pimpinan podok, KH. Jahid, tentang izzah (kemuliaan) Islam. Refleksi Islam tangguh yang mempunyai izzah ini tercermin dari pembawaan KH. Jahid yang tenang yang akan secara tiba-tiba keras jika ada Charles lewat, seorang missionaris tua yang selalu menjajalkan obat gratis setiap sore di sekitaran pondok. Saya membayangkan betapa amat susah bagi beliau untuk menunjukan sikap keras terhadap kaum kafir selama bertahun-tahun yang padahal dalam keseharinnya merupakan sosok lembut dan tenang. Namun begitulah sikap!. Begitulah konsep wala wal bara’, baik terhadap sesama muslim dan keras terhadap kaum kafir yang jelas permusuhannya. Dan konsekuensi ini memerlukan sikap tegas yang tak menjilat, yang hanya takut dan berharap pada Allah saja!.

Namun ketika saya membaca kondisi pondok pesantren di atas, seolah saya dihantam gada raksasa, yang hantaman itu hadir lewat Hary Tanoe, sosok politis, kafir, pengemis suara untuk gambling di meja judi demokrasi yang disambut santri dengan gembira, pakai sholawat pula!. Ada apa dengan santri kita? Apakah Kitab suci yang dipakai sudah berbeda?

Kemudian ingin sekali saya kaji apakah kajian 'bulughul maram' dan 'nashoihul ibad' lepas isya dan subuh itu sudah lama mangkir digantikan kitab pluralisme anti sesat? Atau apakah tradisi dzikir dan doa tidak lagi menyertakan izzah Islam di dalamnya? Lalu shalawat semodel apa yang digaungkan? Mengharap syafaat nabi untuk keberkahan Hary Tanoe?

Ah, semua itu serasa pemerkosaan yang biadab! Pemerkosaan yang menyertakan akidah Islam untuk dioplos hingga mabuk dalam sebotol bir Pluralisme. Bukankah nabi sendiri yang mencontohkan bahwa pembeda antara kita dengan mereka adalah akidah? Lagi pula, setahu saya, dosa syirik masih nangkring diurutan pertama dari dosa-dosa besar hingga kini. Sebuah status yang tak berubah dari dien ini dan sangat dibenci Allah. Begitupun kita harus membenci juga karena perintah Allah. Lalu mengapa masih bermanis muka dengan mereka?

Ya ikhwah! Akhirat bukanlah persoalan main-main, apalagi hanya sekedar pukul rebana dan berjoget ria sementara izzah islam luntur dan sirna karenanya. Ingatlah, kita umat besar, umat mulia yang tak bisa dibeli suara kecuali hanya untuk Allah saja!.

Ya Ikhwah! Bangkitlah segera dan perkuatlah lilitan sarung-sarung kita untuk kembali ke rumah. Rumah umat Islam yang satu, Khilafah Islamiyah!


Ya Ikhwah! Kiranya cukup kali ini saja fenomena itu terjadi.[]



*Pemimpin Redaksi Sholihah.web.id