Syaikh Taqiyuddin Dan Kajian Kitab ‘Mafahim Hizb at-Tahrir’ Hingga Dini Hari

DOK. Sholihah.web.id

Sholihah.web.id, Pembaca yang budiman, berikut redaksi sholihah paparkan sebuah kisah menarik para generasi awal pencetus perjuangan syariah dan khilafah dalam mengkaji draft kitab Mafahim Hizb at-Tahrir bersama syeikh Taqiyuddin An-Nabhami rahimahumullah.

Kisah ini diambil dari buku Ahbabullah karya syeikh Taleb Awadallah, sebuah memoar indah dari syeikh Abu Arqam yang dibimbing langsung kajian kitab Mafahim Hizb at-Tahrir oleh syeikh Taqiyuddin. Berikut kisahnya.

Aku ingat pada saat Hizb mengeluarkan kitab “Mafahim Hizb at-Tahrir” pertama kalinya, syaikh Taqiyuddin rahimahullah pada saat itu berada di Beirut. Maka kami, aku, Ibrahim, Syakir asy-Syarbati dan saudaranya Ya’qub Syakir asy-Syarbati rahimahullah meminta ijin untuk melakukan perjalanan dan bertemu beliau, supaya kami membaca kitab Mafahim Hizb at-Tahrir di hadapan beliau. Kemudian Hizb memberikan ijin kepada kami dan memberikan alamat di Beirut. Maka kami melakukan perjalanan ke Beirut. Kami keluar dari al-Khalil. Setelah shalat subuh pergi ke Amman kemudian ke Damaskus dan dari sana barulah ke Beirut. Kami sampai di Beirut lepas Isya’. Kemudian kami menghubungi alamat yang diberikan kepada kami setelah kami sampai di penginapan. Dari sana kami dibawa oleh pemilik alamat itu. Ketika kami sampai di tempat, kami menjumpai syaikh Taqiyuddin lalu kami masuk.

Aku ingat waktu itu beliau sedang duduk mendengarkan berita ‘Huna London’ –Radio Berita Inggris. Di samping beliau duduk syaikh Abdul Qodim Zallum dan syaikh As’ad Bayoudh at-Tamimi rahimahumullah. Maka kami mengucapkan salam kepada semuanya dan syaikh Taqiyuddin langsung bertanya sebab kedatangan kami. Maka aku menjawab karena keinginan kami mengkaji kitab Mafahim Hizb at-Tahrir bersama beliau. Beliau menjawab, “Selamat datang”. Lalu beliau mematikan radio dan memberikan kepadaku naskah kitab lantas memintaku untuk membaca. Maka aku membaca satu paragraph lalu beliau mulai mensyarahnya lalu kami berdiskusi, begitu berlanjut seterusnya… hingga dini hari, dan kami sangat lelah karena perjalanan panjang dan belum istirahat sedikitpun di perjalanan kami. Maka kami berkata pada beliau, “ya syaikh, kita cukupkan dulu sampai di sini, kami tidak kuat lagi karena sangat lelah akibat perjalanan panjang.” Beliau tertawa lalu berkata, “Cukup Kalau begitu. Dimana kalian menginap di Beirut?” lalu kami berikan alamat penginapan. Beliau berkata, “saya akan datang kepenginapan kalian jam tujuh pagi, setuju?” Maka kami sepakat dengan beliau. Lalu kami kembali ke penginapan, dan selanjutnya kami tertidur karena kelelahan, sampai syaikh Taqiyuddin datang sementara kami masih terlelap. Beliau bertanya kepada resepsionis nomor kamar kami dan di tingkat berapa. Beliau sampai di depan kamar jam tujuh kurang lima menit dan menunggu di depan pintu kamar hingga tepat jam tujuh pagi lalu beliau mengetuk pintu kamar kami yang membuat kami terbangun, lalu kami berdiri. Kami belum menunaikan shalat subuh. Kami sangat terkejut. Beliau berkata, “tidak ada dosa atas kalian, wudhulah dan shalatlah kalian sekarang. Apa yang terjadi pada kalian pernah terjadi pada diri Rasulullah saw…” Kemudian setelah kami menyelesaikan shalat, beliau menyampaikan riwayat kisah Rasulullah saw ketika sampai di Tabuk, dmana beliau tidur beserta para sahabat dan mereka semua tidak bangun kecuali karena panasnya cahaya matahari mengenai kulit mereka…. sampai akhir.


Setlah kami sarapan ala kadarnya, kami mulai membaca kitab Mafahim Hizb at-Tahrir paragraf demi paragraf dan beliau mensyarahnya. Pertemuan itu berlangsung hingga saat makan siang, saat setelah shalat dzuhur, kami meminta beliau menghentikan karena kami ingin berkeliling di jalan-jalan dan tempat bersejarah Beirut. Dan setelah itu kami akan kembali kepada beliau untuk menyempurnakan kajian pertemuan terakhir.setelah selesai pertemuan terakhir dimana kami membaca, beliau mensyarah dan dilanjutkan diskusi, setelah selesa kami kembali pulang ke al-Khalil. [] Aab Elkarimi