Yang Penting Allah Nggak Memecat Saya!

Ikhlas. Dok. Sholihah.web.id
Oleh:
Aab Elkarimi*

Muktamar Tokoh Umat (MTU) yang digelar serentak di seluruh Indonesia beberapa waktu lalu menyisakan kenangan berarti bagi saya. Secara aklamasi ada banyak sekali momen yang terkenang berceceran, yang jika dirangkai dan dibingkai akan mampu membentuk mozaik cantik perjuangan penerapan Syariah dan Khilafah di nusantara yang tentu menghentak. Menggemparkan.

Dari sekian banyak suara tokoh yang hadir pada forum MTU ini, ada ucapan sederhana namun mbandel kuat melekat dalam benak saya. Ucapan itu hadir dari lisan seorang ulama asal Serang-Banten, KH. Sachrowardi, "Yang penting Allah nggak memecat saya!". Sederhana Sekali. Kalimat jujur tanpa hiperbol macam-macam ini tertutur dengan ringan namun menghujam.

KH. Sachrowardi
Saya katakan demikian bukan tanpa alasan. Pasca melihat sepak terjang beliau sebagai seorang ulama kharismatik NU, yang ketika diketahui larut dalam barisan pejuang Syariah dan Khilafah beliau dikeluarkan. Tentu tanpa mendikotomi antara NU dan Hizbut Tahrir yang semua telah mafhum bahwa kerenggangan kedua ormas ini muncul karena ada aroma operasi intelijen yang ingin memecah belah kaum muslimin, saya ingin fokus pada kalimat "Yang Penting Allah nggak memecat Saya" sebagai kalimat yang kaya makna dan totalitas taqwa. Dalam redaksi lengkapnya KH. Sachrowardi bertutur,

"Saya ini ulama NU. Muqri. Tapi setelah mereka tahu saya bergabung dengan Hizbut Tahrir, mereka memecat saya. Teu nanaon. Ngga apa-apa. Sing Penting Allah nggak memecat saya..."

Jlebbb... Kepala saya tertunduk. Berkaca pada diri. Malu. 

Saya berpendapat bahwa secara analitis struktur makna kata 'teu nanaon' (tidak apa-apa) dalam bahasa Sunda jika sebelumnya diikuti kepedihan yang dialami oleh penutur dan diikuti kata 'nu pentingmah' (yang penting) dan kata penyererahan pada Allah setelahnya, bermakna totalitas penyerahan diri yang jujur yang diucapkan tanpa konsep dan permainan. Ini hanya bisa kita temui dalam dialog reflektif sehari-hari. Misal kalimat 'duh si eta ciga ijid ka urang, tapi ah te nanaon, nu pentingmah Allah ridho', (duh orang itu seperti benci sama saya, tapi ah ga apa-apa yang penting Allah ridho). Namun yang menarik tentu bukan bahasan semantik semodel di atas, karena bagaimana pun kaidah usul telah menggariskan bahwa "nahnu nahkumu bid dzowahir", kita ini hanya bisa menilai/menghukumi apa yang nampak, sedang pembahasan ikhlas atau tidak bukan ranah kita. Hal yang menarik bagi kita adalah makna ikhlas dalam perjuangan melanjutkan kehidupan Islam sebagai manivestasi tauhid yang murni. 

Coba saja! mampukah kita bersikap ketika datang ancaman dan rintangan pada kita untuk keluar dari barisan perjuangan dakwah Islam dengan ancama dipecat dari pekerjaan, di DO dari kampus, diusir dari rumah, lantas kita berucap santai: "Te nanaon, ga apa-apa. Yang penting Allah nggak memecat saya"?.

Bagaimana?

[] *Pemimpin Redaksi Sholihah.web.id | Ketua GEMA Pembebasan Jawa Tengah