Khilafah Yang Dirindu, Kok Cuma Ditunggu?

DOK. Sholihah.web.id
Oleh:
Aab Elkarimi*

Sholihah.web.id, Satu fakta besar dari perjalanan sejarah umat islam adalah bahwa kaum muslimin semenjak nabi hijrah ke madinah, dalam latar kondisi yang gersang dan panas, berlanjut tersebar dan besar, membentuk suatu imperium tiada tandingan, membebaskan negeri-negeri terbelakang, menyebarkan nur islam, dan berjalan kurang lebih 13 abad lamanya, fakta itu adalah bahwa kaum muslimin dari dulu selalu hidup dalam naungan islam. Hari-hari mereka diatur oleh islam, perdagangan mereka diatur oleh islam, hingga ketakwaan tergambar nyata karena adanya Negara. Dan semua itu sirna di masa kita, lewat runtuhnya khilafah utsmani pada 3 maret 1924.

Meski tak bisa dipungkiri pemerintahan islam mengalami pasang surut, namun yang tak menjadi bahan perdebatan adalah bahwa di dalam khilafah, syariat islam memang nyata diterapkan. Tidak simbolis, bukan hanya nilai-nilainya saja, tidak dengan kata “yang penting substansinya”. Islam nyata diterapkan. Hukum dan persanksian jelas dijalankan, tauhid tidak malu bersembunyi di masjid, masyarakat menjalankan amal makruf nahi munkar.

Kerinduan terhadap khilafah memang bukan rahasia lagi di tubuh kaum muslimin. Kerinduan ini tercermin dari banyak sekali tuntutan pengembalian khilafah akhir-akhir ini, tak luput pula banyak upaya pencegahan lahirnya khilafah yang lahir di tubuh pembenci. Maka pantas banyak kaum muslimin yang mengambil peran, banyak pula para pembenci yang bergulat untuk memadamkan.

Kerinduan terhadap khilafah memang naluriah dan halal. Kerinduan ini harus tetap dijaga dan dipupuk, namun tentu rindu saja tidaklah cukup. Ada konsekuensi besar dari kerinduan itu sehingga khilafah tak hanya hinggap dalam lamunan dan mimpi saja. Konsekuensi itu adalah pengorbanan, perjuangan, dan tidak banyak alasan untuk menunggu dan diam.

Berbicara tentang sikap pengorbanan dalam melakukan usaha menegakkan khilafah Islam, terdapat banyak hadits dari Rasulullah saw yang mengharuskan adanya sikap yang demikian itu, antara lain sabdanya:

"Pemimpin para syuhada' itu ialah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang lalim, lalu ia menyuruhnya berbuat baik dan mencegahnya berbuat munkar, kemudian ia dibunuhnya". (Lihat Al Mustadrak, Al Hakim An Naisaburi, III/195; Al Mu'jam Ash Shaghir, Imam Ath Thabrani,  I/264))

"Janganlah seseorang di antara kalian dihalangi rasa takut kepada masyarakat untuk tidak menyampaikan kata-kata yang haq, bila ia sudah mengetahuinya". (Shahih Ibnu Hibban, hadits no 278; dan Sunan Ibnu Majah, hadits no. 4007.)

"Siapa saja yang melihat (suatu) kemunkaran, maka hendaklah ia berusaha mengubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu (dengan tangannya), hendaklah ia berusaha dengan lisannya. Dan apabila ia tidak mampu juga, hendaklah ia berusaha mengngkari dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah Iman". (Shahih Muslim, no. 49; Sunan Abu Dawud, no. 1140, 4340; Sunan Tirmidzi hadits no. 2173; Sunan An Nasa'i VIII/111; dan Sunan Ibnu Majah No. 4013.)

Orang Islam yang hanya menunggu dan tidak mengupayakan hal ini, telah berdosa dan telah melalaikan kewajiban-kewajiban agamanya. Dosa itu akan berlipat ganda bagi para penguasa yang masih mempercayai Islam, tetapi takut oleh ancaman oleh negara-negara adidaya bila melaksanakan seluruh hukum dan peraturan Islam, politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, maupun hukum dan perdata. Tidak ada rukhshah apapun bagi seorang Muslim untuk tetap berdiam diri terhadap pelaksanaan kewajiban menegakan khilafah untuk menunaikan kewajiban menjalankan syariat Islam apalagi dengan alasan tidak mampu dan terlalu beresiko.

Orang-orang yang mencari-cari rukhshah (keringanan) untuk melepaskan tanggung jawab dan tetap berdiam diri terhadap kondisi yang ada, dosanya semakin bertambah, khususnya apabila ia ikut pula menyebarkan rasa pesimis, rela menerima kehinaan, dan atau merasa bahwa umat ini sudah tidak berdaya lagi setelah dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Lebih-lebih lagi bila ia mengajak umat untuk tunduk kepada penguasa-penguasa kafir, zhalim ataupun fasik, serta mengajaknya berkompromi dengan mereka, padahal para penguasa tersebut belum mengubah sikapnya atau tetap menolak agama dan sistem Islam yang dapat melestarikan kehidupan negara dan masyarakat.[]

*Pemimpin Redaksi Sholihah.web.id

------------------------------------------------------------------------
Sumber bacaan: Soal-Jawab Seputar Gerakan Islam, Oleh Abdurrahman Muhammad Khalid, Pustaka Thoriqul Izzah, Januari 1994.