Dalam Demokrasi, Mau Pilih Siapa Saja Tetap Bencana

foto viral cagup dan cawagup yang tersebar di medsos
Inilah yang saya sebut dengan fitnah Ahok-Djarot Agus-Sylviana Anies-Sandiaga. Fitnah ini jauh lebih berbahaya dari pada buah simalakama, yang kata pepatah bila dimakan membuat ayah mati, bila tidak dimakan membuat ibu mati.

Sholihah.web.id, Apakah anda salah satu dari jutaan umat Muhammad SAW. yang masih berharap perubahan lewat demokrasi?. Redaksi sarankan agar segera beristighfar dan panjatkan ampunan sejadi-jadinya untuk kesalahan yang tidak tahu dasar hukumnya.

Untuk hal yang satu ini redaksi tidak akan memaparkan panjang lebar dasar hukum dari demokrasi, namun ada sebuah catatan kecil dari seorang jurnalis salah satu media Islam besar, Joko Prasetyo, yang menulis catatan sederhana di akun facebook pribadinya. Berikut redaksi sholihah kutip:

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun...

Saat ini kaum Muslimin Jakarta tengah ditimpa fitnah Ahok-Djarot Agus-Sylviana Anies-Sandiaga.

Haramnya pilih Ahok-Djarot sudah jelas dipahami mayoritas kaum Muslimin ---kecuali mereka yang gelap hati di PDI P, Golkar, Nasdem dan Hanura.

Jangan lupa, bukan karena pilih Ahok-Djarot saja yang berdosa, pilih Agus-Sylviana atau pun pilih Anies-Sandiaga juga berdosa.

Apakah bila kepilih, Agus-Sylviana atau Anies-Sandiaga akan menyetop riba di Jakarta? Tidak, karena itu sudah diatur UU yang berlaku secara nasional. Padahal riba HARAM hukumnya.

Apakah bila kepilih, Agus-Sylviana atau Anies-Sandiaga akan mengambil alih Teluk Jakarta yang kini dikelola aseng dalam proyek reklamasi? Tidak, karena itu sudah diatur UU yang berlaku secara nasional. Padahal penyerahan milkiyah ammah (kepemilikan umum) seperti Teluk Jakarta tsb kepada swasta apalagi asing HARAM hukumnya.

Apakah bila kepilih, Agus-Sylviana atau Anies-Sandiaga akan mewajibkan seluruh perempuan yang sudah aqil baligh berkerudung dan berjilbab? 

Bla.. bla.. bla.. Padahal HARAM hukumnya membiarkan wanita yang sudah aqil baligh tidak menutup aurat dengan sempurna.

Apakah akan.... Memotong tangan pencuri? 

Merajam yang berzina?

Bla.. bla.. bla.. Padahal HARAM hukumnya bila mengabaikan satu saja kewajiban dari Allah SWT...

Dengan kata lain, bila kepilih, Agus-Sylviana atau Anies-Sandiaga tetap tidak bisa menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Walhasil, bukan hanya bila mencoblos Ahok-Djarot saja yang HARAM. Ketika kita mencoblos Agus-Sylviana atau pun Anies-Sandiaga, saya sangat kuatir itu mengakibatkan Agus-Sylviana/Anies-Sandiaga dan kita semua yang memilihnya berdosa jariah (dosa yang terus mengalir).

Lho kok bisa?

Bukankah Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 44, 45 dan 47 telah mengelompokkan para pemimpin itu kepada tiga kelompok, bila tidak berhukum dengan aturan yang diturunkan-Nya?

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (44), dzalim (45) dan fasik (47).

Ahok-Djarot (maksudnya Basuki Tjahaja Purnamanya alias Ahok doang ya) adalah kafir!

Djarot, Agus-Sylviana dan Anies-Sandiaga jelas tidak bisa digolongkan “kafir” karena secara individual dia beriman dan beramal shalih. Tetapi begitu terpilih menjadi kepala daerah akan digolongkan “dzalim” bila tidak mengetahui menerapkan syariah secara kaffah itu wajib, dan digolongkan “fasik” bila tahu itu wajib tetapi tidak mau melaksanakannya.

Dan cap buruk dari Allah SWT tersebut akan terus disematkan kepada mereka sampai mereka menerapkan syariat Islam secara kaffah atau tidak jadi gubernur lagi. Dan selama itu pula kita turut berdosa jariah karena turut andil dalam menjerumuskan mereka menjadi “dzalim” atau “fasik”.

Djarot/Agus-Sylviana/Anies-Sandiaga kan terpaksa, bukan tidak mau...

Terpaksa karena diatur UU yang berlaku secara nasional itu? Bukankah itu menunjukkan dia berhukum dengan hukum yang bukan diturunkan Allah SWT?

Djarot/Agus-Sylviana/Anies-Sandiaga tidak akan digolongkan dzalim atau fasik, bila tidak memaksakan diri ikut Pilkada kan? Dan kita, insya Allah, tidak mendapatkan dosa jariah bila tidak ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut.

Inilah yang saya sebut dengan fitnah Ahok-Djarot Agus-Sylviana Anies-Sandiaga. Fitnah ini jauh lebih berbahaya dari pada buah simalakama, yang kata pepatah bila dimakan membuat ayah mati, bila tidak dimakan membuat ibu mati.

Menghindar dari fitnah tersebut jauh lebih baik, seraya terus berjuang mengganti sistem kufur demokrasi dengan khilafah Islam.

Mengapa? Eh, kok masih bertanya...

Bukankah sistem kufur demokrasi ini yang melegalkan orang kafir memimpin?

Bukankah sistem kufur demokrasi ini yang melegalkan riba, memprivatisasi milkiyah ammah, membiarkan perempuan umbar aurat, tidak memotong tangan pencuri dan tidak merajam pezina?

Sedangkan khilafah, yakni sistem pemerintahan Islam, jelas-jelas mengharamkan orang kafir menjadi kepala negara atau pun kepala daerah.

Sedangkan khilafah, yakni sistem pemerintahan Islam, memang ditegakkan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Wahai kaum Muslimin, inget ya, saya telah menyampaikan....
Yaa Allah... saksikanlah....[]

Editor : Aab