Hari ini Puluhan Ribu Warga Jakarta Tolak Ahok, Ayo Dukung Juga Petisinya!


Sholihah.web.id, Sekitar 20 ribu massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan umat mengikuti aksi Tolak Pemimpin Kafir, Ahad (04/09/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta. 

“Menyerukan kepada seluruh umat Islam, di wilayah DKI Jakarta khususnya, untuk bersatu, bahu membahu, berjuang menolak (calon) kepemimpinan kafir di wilayah ini, yang dalam sejarahnya sesungguhnya senantiasa lekat dengan perjuangan Islam,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto, Ahad (4/9/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta. (Hizbut-tahrir.or.id)

Ayo Dukung Petisi #TolakAhok  #HaramPemimpinKafir!

Untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang baik, mutlak diperlukan sistem yang baik. Jika sistem tidak baik, mustahil bisa melahirkan kebaikan. Lebih dari itu, sistem yang tidak baik hanya akan memproduksi masalah dan kerusakan.

Sebagai sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT, Islam adalah satu-satunya sistem kehidupan yang baik dan tidak ada yang lebih baik darinya (lihat QS al Maidah [5]: 59). Oleh karena itu, ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan, semua kebaikan, mulai dari keadilan, kesejahteraan, ketentraman, keamanan, dan lain-lain akan terwujud dalam kehidupan. Inilah wujud Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Agar Islam bisa diterapkan secara kaffah, harus ada pemimpin yang menerapkannya. Islam menetapkan bahwa di antara tugas penting pemimpin adalah menegakkan syariah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan. Imam al Nawawi dalam Rawdhat al thalibin wa Umdat al Muftin berkata :

“Menjadi keharusan bagi umat adanya imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, membela orang yang di zhalimi, menunaikan hak, dan menempatkan hak pada tempatnya.”

Maka, syarat penting seorang pemimpin adalah muslim. Bila bukan muslim, bagaimana mungkin ia bisa diharapkan menerapkan syariah dan menegakkan amar ma’ruf sedangkan dia tidak beriman pada syariah dan tidak memahami kewajiban amar ma’ruf nahi munkar?

Oleh karena itu, dalam pandangan Islam haram memilih dan mengangkat non muslim atau orang kafir menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Allah SWT berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (TQS. An Nisaa [4]: 141)

Tentang ayat tersebut, al Qadli ibnu al Arabi dalam Ahkam al Qur’an (v/421) menyatakan, 
“Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum mukmin secara syar’i dan jika hal itu ada maka hal itu menyalahi syara’.”

Kekuasaan atau kepemimpinan merupakan jalan terbesar untuk bisa menguasai kaum mukminin. Meski dalam redaksi berita, ayat ini mengandung celaan, maka maknanya adalah larangan untuk memberikan jalan kepada orang kafir untuk menguasai kaum mukminin. Lafadz “lan” menunjukkan larangan ini bersifat tegas. Artinya, Allah SWT mengharamkan umat Islam menyerahkan kekuasaan kepada orang kafir.

Tentang haramnya mengangkat orang kafir menjadi pemimpin telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama. Ibnu Hazm berkata :

“Dan mereka (para ulama) telah sepakat bahwa kepemimpinan tidak diperbolehkan bagi perempuan, orang kafir, anak kecil yang belum baligh, dan juga tidak diperbolehkan bagi orang gila” (Maratib al Ijma’, hal 208).

Al Qadhy ‘Iyadh berkata :

“Para ulama telah sepakat bahwa kepemimpinan tidak sah bagi orang kafir; dan seandainya terjadi kekufuran padanya (murtad), maka dicopot dari jabatannya.” (Imam an Nawawi, Syarh Shahih Muslim, vi/315).

Jadi, tolak pemimpin kafir, tolak Ahok, karena haram mengangkat orang kafir sebagai pemimpin.


[Petisi · Rakyat DKI Jakarta: Wahai Kaum Muslimin ; Haram Pemimpin Kafir, Tolak Ahok! · Change.org] link:

https://www.change.org/p/rakyat-dki-jakarta-wahai-kaum-muslimin-haram-pemimpin-kafir-tolak-ahok?recruiter=592657316&utm_source=share_petition&utm_medium=email&utm_campaign=share_email_responsive