Ketika Pendekar Sakti itu Dibungkam: Refleksi Kasus UI

“Ayo kampus, jangan diam saja. Kampus mempunyai pendekar-pendekar sakti karena memiliki 'pedang', punya keahlian, punya keilmuan” begitu kata Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Zulkifli Hasan.

Oleh: Maulana B Sanjaya
(Aktivis Mahasiswa STEI Hamfara)

Sholihah.web.id, “Ayo kampus, jangan diam saja. Kampus mempunyai pendekar-pendekar sakti karena memiliki 'pedang', punya keahlian, punya keilmuan” begitu kata Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Zulkifli Hasan.

Lucunya ketika pendekar sakti itu bersuara, justru dibungkam oleh pihak kampus dengan tuduhan yang rancu dan hipokrit. Begitulah yang terjadi dewasa ini, dunia mahasiswa sedikit gempar akibat munculnya video sesosok lelaki berjaket kuning yang berbicara mengenai sikap politiknya. Pihak kampus kuning turun tangan dengan memaksa lelaki tersebut meminta maaf dan mengaku salah, lelaki tersebut dituduh melanggar aturan kampus.

Poin utama yang “katanya” dilanggar adalah melakukan diskriminasi terhadap orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi seksual dan cacat fisik.

Ditambah lagi dalam akhir surat diatas, pihak kampus menghimbau agar menjaga kenetralan kampus. Hal yang pertama yang muncul di benak penulis setelah membaca himbauan ini adalah apakah UI telah lupa masa lalunya sebagai kampus yang melahirkan “Ketidaknetralan” yang membangun? Pada masa lalu, seorang mahasiswa UI jurusan Ilmu Sejarah mempelopori perubahan kepemimpinan rezim orde lama tanpa perlu membuat surat pernyataan berbuat salah, beliaulah Soe Hok Gie.

Puluhan tahun setelah tumbangnya rezim orde lama, mahasiswa dari UI muncul dengan “ketidaknetralan” kembali, peristiwa Malari dipelopori oleh mahasiswa UI kembali. Sosok Hariman Siregar sebagai Dema UI muncul untuk melakukan tindakan “ketidaknetralan politik”. Memang kali ini ia ditangkap namun bukan karena “ketidaknetralan”, ia ditangkap karena dianggap tidak mampu mengendalikan aksi. Ingat, bukan karena sikap politiknya!

20-an tahun setelah peristiwa Malari, UI kembali lagi dengan “ketidaknetralannya”. UI melahirkan martir reformasi dan ratusan bahkan ribuan peserta aksi politik jalanan yang menggulingkan orde baru lalu mengusung reformasi. Telah jelas bukti bahwa hubungan kampus dengan politik sangat intim sejak lama.

Jika pihak kampus masih enggan berkaca dari negeri sendiri mengenai hubungan intim kampus dengan politik, coba kita lihat di belahan dunia lain. Di benua amerika, tidak luput dari ketidaknetralan mahasiswa dalam berpolitik. Contoh gamblangnya adalah mahasiswa Meksiko dengan gerakan “Yo Soy 132”.

Netralitas yang Hipokrit

Pihak kampus UI mempermasalahkan mahasiswanya yang melakukan tindakan politik namun membiarkan civitas akademika mereka melakukan tindakan politik. Perbedaan keduanya adalah satunya menolak dan menentang sedangkan yang satunya mendukung bahkan merekomendasikan untuk memilih sosok “itu”. Hipokrit? Jelas!

Lantas apakah maksud netralitas yang mereka maksud? Jika mereka keukeuh membiarkan civitas akademikanya mendukung calon tertentu lalu menindak mahasiswa yang menyuarkan aspirasi politik yang berlainan,bukankah itu sama dengan UI melakukan tindakan politik dan membuat standar netralitas menjadi hipokrit semata ? Seharusnya pihak kampus melakukan peneguran terhadap pihak pihak tersebut,tak peduli mahasiswa atau dosen atau bahkan rektor sekalipun jika benar benar ingin “netral”.

Baca juga: UI Riwayatmu Kini!

Civitas akademika UI yang dimaksud adalah Hamdi Muluk dan Ade Armando yang secara gamblang mendukung Ahok, bahkan Lab Psikologi Politik UI  telah menjadi  konsultan politik Jokowi dan baru baru ini Ahok.Mereka mereka ini tidak memperoleh teguran dari kampus,apalagi meminta maaf. Hipokrit? Jelas!.

Jika netralitas yang dimaksud adalah tidak menyinggung pihak lain dalam beropini,bukankah masih terekam jelas di ingatan kita bahwa Ade Armando berkali kali menyudutkan islam diantaranya adalah menyebut Allah tidak mengharamkan LGBT. Tidak hanya itu,ia bahkan pernah menyebut Al Qur’an dan Sunnah adalah biang masalah dan pangkal bencana.

Mahasiswa yang tampil di video kemarin hanya mengingatkan kepada umat tentang ajaran islam dan tidak menyerukan membenci agama dan ras tertentu.Justru ketika ada yang melarang umat islam menyampaikan ajaran islam,bukankah ia sendiri yang menyebar kebencian terhadap agama lain?.


Di akhir tulisan ini saya mempertanyakan, mengapa mahasiswa yang menyerukan ajaran Islam dituduh melanggar SARA dan menebar kebencian. Dalam islam, sudah jelas dan ulama bersepakat bahwa haram hukumnya memilih orang kafir sebagai pemimpin, Mahasiswa yang bersuara kemarin hanya memperingatkan dan menyampaikan bukan menyeru kebencian apalagi menyinggug SARA. []

Editor: Aab


Sebarluaskan informasi ini, mudah-mudahan jadi amal sholeh anda!