Maraknya Kecelakaan Maut Akibat Handphone, Begini Solusi Islam Mengatasinya!

Oleh: Hasni Tagili
(Dosen Universitas Lakidende & Aktivis MHTI Konawe)

Pernah berkendara sambil ‘berurusan’ dengan telepon genggam Anda? Bisa jadi pernah, walaupun hanya sekali. Tak banyak pengendara yang menyadari bahwa resiko besar bisa terjadi tatkala mereka lengah memadumadankan dua variable independen tersebut. Mengapa demikian?
Ilustrasi via dimasprakoso.com

Napak Tilas ‘Pengantar’ Maut

Seorang pengendara motor, di Jl Soekarno Hatta, Pekanbaru, Jumat (31/01/2014) malam, menabrak truk yang justru sedang berhenti. Kecelakaan ini terjadi karena pengendara naik motor sambil bermain HP (Detiknews.com, 01/02/2014). Sementara itu, dua remaja tewas terlindas truk tronton di Jalan Raya Talang-Adiwerna, Desa Tegalwangi, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, gara-gara berkendara motor sambil menggunakan telepon genggam (Koran SINDO, 26/01/2015). Kasus serupa kembali terjadi, walau tidak sampai menewaskan korban. Dua warga Gedung Pakuon, Telukbetung Barat, Bandarlampung menabrak pembatas jalan Yos Sudarso dikarenakan mengendarai sepeda motor sambil menggunakan handphone (Radarlampung.com, 05/06/2016).

Sederet kasus tersebut hanyalah bagian kecil dari membengkaknya kecelakaan berkendara akibat bermain handphone. Padahal, Undang-Undang No. 22 tahun 2009 Tentang Lalu-Lintas Dan Angkutan Jalan Pada Pasal 283 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 menyebutkan bahwa “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).”

Disebutkan pula dalam Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No.22 Tahun 2009  bahwa “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.” Sehingga, sebaiknya dalam keadaan tertentu yang sangat darurat, apabila ada telepon atau SMS penting, Anda menepi terlebih dahulu untuk menerimanya demi keselamatan diri sendiri juga orang lain.

Bahaya yang Ditimbulkan

Pasalnya, sangat berbahaya menggunakan handphone pada saat berkendara. Penelitian yang dilakukan oleh GHSA (Governors Highway Safety Association), Amerika Serikat, menemukan bahwa menelpon atau ber-SMS pada saat mengemudi merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan di jalan raya. Penelitian Internasional pun mengungkapkan bahwa penggunaan ponsel saat mengemudi menyumbangkan satu dari setiap empat kecelakaan lalu lintas.

Bahaya penggunaan ponsel saat berkendara bukan pada cara kita menggunakannya (termasuk memakai handsfree), melainkan lebih pada topik pembicaraan atau apa yang sedang kita bicarakan saat itu. Jadi bahayanya adalah karena otak pengemudi dipaksa berpikir hal penting lainnya saat mengemudi, sehingga konsentrasi menjadi terpecah.

Menggunakan handphone saat berkendara juga jauh lebih berbahaya daripada berkendaraan saat mabuk. Ber-SMS saat berkendara, 6 kali lebih memungkinkan menyebabkan kecelakaan dibandingkan berkendara saat mabuk. Hampir 23% kecelakaan disebabkan oleh menelpon menggunakan handphone saat berkendara. Sebab, berkendara sambil menelepon bisa membuat otak bereaksi (meski masih remaja) seperti otak para manula yang berusia 70 tahun.

Islam Memandang

Pandangan Islam sebagai aturan hidup yang sempurna tentunya memiliki sejumlah hukum dan tuntunan yang bisa mencegah dan menyelesaikan bencana transportasi akibat keteledoran pengendara yang bermain handphone sambil berkendara. Pasalnya, perilaku tersebut bukan saja membahayakan dirinya sendiri, tapi juga membahayakan keselamatan orang lain.

Segala hal yang membahayakan diri sendiri atau orang lain dengan tegas diharamkan oleh syariah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membahayakan (orang lain), niscaya Allah akan menimpakan bahaya padanya, dan siapa yang menyusahkan (orang lain) niscaya Allah menyusahkannya (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, Tirmidzi dan Ahmad). Sehingga, harus ada kesadaran pribadi dan kontrol dari masyarakat bahwa berkendara sambil bermain handphone sebaiknya tidak dilakukan. Kendatipun ada pesan atau panggilan mendesak, alangkah baiknya jika pengendara menepi terlebih dahulu dan menjawab pesan atau panggilan penting yang masuk.


Islam juga mewajibkan penguasa untuk memelihara kemaslahatan rakyatnya, termasuk urusan keselamatan dalam berkendara yang faktor utamanya dipicu oleh bermain handphone. Negara wajib mengingatkan dan memberi sanksi tegas kepada masyarakat yang berkendara sambil bermain handphone. Bukan hanya dalam bentuk teori, tetapi harus ada prakteknya. Sehingga, efek jera yang dihasilkan dari regulasi tersebut membuat pengendara lain tidak berani melakukan keteledoran tersebut. Wallahu ‘alam bisshawab. []

Editor: Yustia