Muslimah ‘Sianida’ (Siap Menikah Sebelum Wisuda), Setuju?


Oleh: Hasni Tagili
(Dosen Universitas Lakidende)

Menikah di usia muda bagi seorang Muslimah, khususnya ketika masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, menjadi polemik yang terus bergulir di masyarakat kita. Kebanyakan orangtua tidak setuju jika anak gadisnya menikah sebelum menyelesaikan studinya. Berbagai pertimbangan lahir dari benak orangtua yang mengatasnamakan kebaikan bagi anaknya. Pertimbangan itu akan ‘ketuk palu’ kendatipun si anak gadis sudah ‘sianida’ (siap menikah sebelum wisuda).

Menunda Menikah?

Sholihah.web.id, Mengapa menunda menikah? Jawabannya bisa jadi datang dari sisi orangtua maupun sisi anak itu sendiri. Pertimbangan yang kerap diberikan orangtua tatkala mereka belum mengizinkan anaknya menikah adalah usia yang masih muda, studi kuliah anak yang belum selesai, dan si anak gadis belum mempunyai pekerjaan.

Di Indonesia, Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Bab 2 Pasal 7 Ayat 1 menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Kemudian, dalam Peraturan Menteri Agama No. 11 tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah Bab IV Pasal 7 disebutkan bahwa apabila seorang calon mempelai pria belum mencapai umur 21 tahun, maka harus mendapat izin tertulis dari kedua orangtuanya, sebab usia tersebut dipandang masih memerlukan pengawasan dari orangtua/wali.

Dari data BKKBN tahun 2013 menyebutkan bahwa setiap jam, ada dua ibu meninggal karena melahirkan di Indonesia. Jika diakumulasikan, ada sekitar 17.520 ibu meninggal saat melahirkan. BKKBN berdalih, masih tingginya kasus kematian ibu melahirkan karena pernikahan dini. Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI), Iffah Ainur Rochmah, menyatakan bahwa data temuan BKKBN tersebut harus dikritisi. Sebab, persoalan meninggalnya ibu saat melahirkan bukan hanya karena menikah dini, melainkan karena keterlambatan pertolongan pada ibu melahirkan (Republika.co.id, 14/02/2013).

Masih berkaitan dengan usia, di satu sisi, pihak yang pro ‘menekan’ terjadinya pernikahan di usia muda menjadikan faktor psikologis sebagai alasannya. Usia muda menjadi parameter dalam menilai layak tidaknya seseorang berumah tangga. Di sisi lain, pihak yang kontra memandang bahwa akar masalah bukan terletak pada usia, melainkan faktor kesiapan saat menikah. Pasalnya, tidak semua pelaku nikah muda bermasalah dan tidak semua pelaku nikah di usia matang tidak berpolemik.

Kemudian, persoalan studi yang belum kelar sebenarnya bisa disiasati dengan komitmen yang benar dan tegas. Harus ada niat dan usaha keras dari pasangan muda tersebut untuk menyelesaikan studinya melalui manajemen waktu yang terorganisir dengan baik. Kendatipun, mereka adalah pasangan yang sudah menikah atau bahkan sudah punya anak. Sebab, hakikat pernikahan tidak semata-mata demi mendapatkan keturunan, tetapi menjadikan pernikahan sebagai ladang ibadah kepada Allah SWT.

Adapun perkara pekerjaan, dalam Islam disebutkan bahwa perempuan tidak wajib bekerja. Tanggungjawab mencari nafkah dibebankan kepada pria. Sehingga, orangtua akan dinilai kurang bijaksana tatkala mereka ‘menghalangi’ anak gadisnya menikah hanya karena belum punya pekerjaan. 

Alhasil, sebuah ironi tidak dapat dihindari manakala anak gadis diminta menikah nanti ketika usia 20-an, kuliahnya sudah selesai, atau sudah punya pekerjaan, namun anak tetap ‘dibiarkan’ memiliki akses terhadap pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, pacaran, berpakaian mengundang syahwat, dan sejenisnya. Iya kan?

Sementara itu, kebanyakan anak gadis ‘kekinian’ menjadikan wajah dan kekayaan sebagai standar utama dalam menerima atau menolak lamaran seorang pria. Sehingga, jika pria yang datang melamar itu tidak sesuai dengan ‘standarnya’, maka mereka tidak segan bersembunyi dibalik jawaban ‘belum siap’.

Menikah Muda, Why Not?

Pernikahan bukanlah penghalang bagi seorang Muslimah untuk tetap menuntut ilmu (kuliah). Terlebih ketika pria yang datang melamarnya adalah pria yang memiliki nafkah. Tetapi, jika pria itu tidak memiliki nafkah, dan dia khawatir jika menikah tidak bisa mencari nafkah sambil kuliah, ketika itulah bisa jadi pernikahan adalah penghalang baginya untuk kuliah. Meskipun demikian, Islam tidak menganjurkan para pemuda menunda pernikahan walaupun dalam kondisi tidak memiliki nafkah. Sebab, Allah SWT akan menjamin rizki orang yang menikah.

Dalam Al-Qur’an surah Hud: 6, Allah SWT berfirman yang, 

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…. 

Binatang melata saja dijamin rezekinya oleh Allah, apalagi manusia. Ditambah lagi, Allah SWT berfirman dalam surah an-Nur ayat 32 yang artinya, 

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. 

Sehingga, manusia tidak perlu memiliki rasa khawatir berlebihan terkait dengan rezeki ketika hendak menikah, kendatipun belum memiliki nafkah. Tapi dengan catatan, si pria harus bertekad kuat untuk menafkahi keluarganya kelak, sebab hal itu juga merupakan bagian dari tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah SWT yaitu: 1). orang yang berjihad di jalan Allah, 2). budak yang menebus dirinya dari tuannya, dan 3). pemuda atau pemudi yang menikah karena ingin menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim). Maka, yakinlah bahwa Allah SWT akan menolong siapa saja yang berniat menikah demi menghindari dosa.

Keputusan menikah di usia muda demi menghindari dosa ini terjadi pada Muhammad Alvin Faiz, anak pertama Ustadz Arifin Ilham, yang baru berusia 17 tahun, yang menikahi Larissa Chou, sosok mualaf keturunan Tionghoa yang berusia 20 tahun (Liputan6.com, 06/08/2016).

Langkah yang sama juga diambil oleh Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Salim A. Fillah, dan Ustadz Felix Siauw. Di tahun 1999, Ustadz Yusuf Mansur (23 tahun) menikahi istrinya, Maemunah, yang ketika itu baru berumur 14 tahun. Di tahun 2004, Ustadz Salim A. Fillah yang saat itu berusia 20 tahun menikahi istrinya yang berusia 22 tahun. Adapun kisah romantika ustadz yang paling banyak digandrungi anak muda saat ini, Ustadz Felix Siauw, memang sudah menjadi rahasia umum. Ustadz Felix menikahi istrinya, Parsini, pada tahun 2006 tatkala ustadz muda ini baru berusia 22 tahun (Islampos.com, 11/08/2016).

Walau dengan modal keuangan seadanya, namun karena ditunjang ‘bekal’ agama yang memadai, mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Mereka yakin bahwa niat mereka menjaga kehormatan diri dari godaan duniawi melalui pernikahan akan diganjar oleh Allah SWT dengan sesuatu yang terhormat pula. Lantas, bagaimana dengan generasi muda kita?

Muslimah ‘Sianida’

Dalam Islam, tidak ada patokan usia tertentu ketika seseorang ingin berumah tangga. Poin terpenting adalah seorang lelaki sudah mencapai kategori baligh (dewasa) yang ditandai dengan perubahan fisik dan bangkitnya garizah nau’. Seorang pria dibolehkan menikahi perempuan di bawah umur, sebelum atau sesudah haid. Dalam hal ini, tidak ada ikhtilaf (perbedaan) di kalangan ulama’. Demikian penjelasan Ibn Mundzir, sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Qudamah. Dalam penjelasannya, Ibn Mundzir menyatakan, “Semua ahli ilmu, yang pandangannya kami hapal, telah sepakat, bahwa seorang ayah yang menikahkan anak gadisnya yang masih kecil hukumnya mubah (sah).”

Ummul Mukminin, Aisyah ra. dinikahi oleh Rasulullah SAW tatkala usianya masih 6 tahun. Walau demikian, mereka tidak langsung tinggal serumah. Aisyah dipersiapkan oleh ibunya menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya selama 3 tahun. Nanti di usia 9 tahun, barulah Aisyah hidup seatap dengan Rasulullah SAW.

Adapun Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah SAW, menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada usia 14 tahun (kalau menghitung lahirnya dari tahun 2 kenabian; sekitar 612 masehi). Sedangkan Ali pada saat itu berumur 25 tahun. Rasulullah menikahkan keduanya karena ingin putrinya terhindar dari perbuatan tercela.

Kebolehahan menikah di usia muda tentunya dilakukan bukan tanpa persiapan sejak dini. Pasalnya, Muslim dan Muslimah dalam didikan Islam sudah harus mengetahui syariat yang terkait pernikahan, hak dan kewajiban suami isteri, pengasuhan anak, dll, meskipun usia mereka masih belia, sebab yang menjadi fokus adalah bagaimana menyiapkan anak-anak sejak dini untuk mampu membangun rumah tangga.

Adapun persipan yang dapat dilakukan yaitu penguatan aqidah sebagai bekal menapaki berbagai persoalan kehidupan rumah tangga, pemahaman konsep dasar pernikahan dalam Islam yang senantiasa dibimbing oleh syariat, penguasaan hukum-hukum Islam seputar pernikahan, membina diri menjadi muslim/muslimah berkepribadian Islam, dan pemahaman yang memadai tentang kesehatan fisik dan organ reproduksi.


Dengan demikian, menikah muda tidak lagi menjadi momok menakutkan meskipun studi kuliah belum rampung. Mengingat, segala persiapan terkait dengan manajemen rumah tangga, baik secara fisik maupun mental, telah dipersiapkan sejak dini oleh orangtua dan terkondisikan oleh lingkungan dan penguasa. Jadi, tunggu apalagi, ketika jodoh datang, mari menjadi Muslimah ‘Sianida’. Wallahu ‘alam bisshawab. []

Editor : Yustia