Yang Akan Terjadi Setelah Kampus Paksa Logika Harus Bersih Dari Politik (Respon Video ‘Mahasiswa UI Tolak Ahok’)


Oleh: Aab Elkarimi
(Pimred Sholihah.web.id | PW Gema Pembebasan Jawa Tengah)

Sholihah.web.id, Masih ingatkah 11 November 2010 lalu Obama bertandang ke Balairung, Universitas Indonesia, berbicara tentang hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika?. Lalu pada Kamis, (01/09) Sri Mulyani Bertandang juga ke UI, berbicara soal Tax Amnesty di hadapan lebih dari 300 peserta yang memenuhi balai sidang. Belum lagi banyak tokoh nasional maupun tokoh dunia yang telah beratus kali mengganti microphone di kampus UI, mereka berbicara bergantian tentang politik. Ya. Politik. Jadi apakah kampus harus benar-benar bersih dari politik? Bagaimana dengan laboratorium Psikologi UI yang secara terang-terangan menjadi konselor Ahok? Atau jika berbicara tentang rasisme, SARA, dan hujat agama, bukankah Ade Armando yang merupakan dosen UI adalah jagonya?.

Mungkin sebenarnya logika yang dibangun seperti kita berusaha mempersilahkan orang yang terlanjur besar untuk mengisi ruang kuliah dengan ideologi politik mereka, lalu karena kita mempunyai aturan yang diwariskan masa NKK-BKK soal normalisasi kehidupan kampus yang diperbaharui biar terlihat segar dan baru, maka karena rasa kadung itulah diterapkan untuk mahasiswa saja. Lagi pula letak masalah sebenarnya terlihat dari kesan saja. Jika kita berpolitik dengan dalih keilmuan, bersembunyi di balik acara seminar, kuliah umum, dan talkshow, maka itu halal. Namun jika kita berpolitik untuk mengkritisi realitas yang ada, membenturkannya dengan politik Islam, maka menjadi haram!, tidak boleh!, neraka!, hujat!, musnahkan!, malu-maluin institusi!. Pertanyaannya; mengapa tiba-tiba kita menjadi munafik?.

Pasalnya sudah menjadi rahasia umum bahwa social science yang muncul di dunia akademis saat ini tidak berarti bebas nilai. Fakta menunjukan bahwa ilmu ekonomi, misalnya, itu nilai yang dikandungnya begitu politis sekali, sesuai dengan kebijakan neoimprealisme dan neoliberalisme yang digagas negara adidaya saat ini. Ini bisa kita lihat dari cara ilmu ekonomi memandang hutang, perancangan APBN, ataupun kebijakan pajak. Bukankah semua bangunan keilmuan ekonoomi yang digagas saat ini mengerucut pada satu ideologi politik dunia?.

Lalu jika Obama berhak berpidato dan difasilitasi di UI, kenapa dengan Boby yang hanya meminjam latar dan jaket almamater UI kemudian secara lantang mencantumkan diri sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan komisariat UI, yang semuanya pasti sudah tahu bahwa itu organisasi ekstra kampus tak ubahnya HMI, PMII, KAMMI, GMNI, dan yang lainnya yang kebetulan Boby adalah mahasiswa UI. Logika sederhana saja akan bilang bahwa itu mustahil mewakili UI, tapi mewakiti Gerakan Mahasiswa Pembebasan komisariat UI. Tentu menjadi masalah jika Boby tidak mencantumkan kalimat aktivis “GEMA Pembebasan” dan ini boleh untuk diusut.

Fakta Rahasia

Video berjudul 'Gema Pembebasan UI Tolak Ahok' pada saat tulisan ini dibuat (07/09) sebenarnya hanya dilihat 3000 an pemirsa youtube. Namun terkesan ada sebuah skema yang dirancang secara serius untuk sebuah motif yang juga politis. Portal berita detik.com lah yang disinyalir oleh penulis pertama kali mengemas secara menggemaskan hal yang sebenarnya tak viral menjadi viral, lalu berbondonglah media binal berbicara dan menganggat secara serempak. Sebelumnya detik.com juga berbohong mereduksi hampir 80% jumlah aksi #TolakAhok di jakarta dari segi peserta. Sebuah kejahatan jurnalistik yang cukup parah. Maka menjadi benar adap yang dikata Noam Chomsky soal media saat ini bahwa,

“Bagaimanapun fakta di media massa hanyalah hasil rekonstruksi dan olahan para pekerja redaksi. Sulit untuk dapat mengatakan bahwa apa yang mereka tulis adalah fakta yang sebenarnya”

Terlanjur membesar

Video berjudul 'Gema Pembebasan UI Tolak Ahok' hingga saat ini telah membesar dan semakin menyebar tak terbendung bak jamur di musim penghujan. Video ini merupakan rancangan paket opini dari PP Gema Pembebasan yang mengambil tema besar “Haram pemimpin kafir dan kampanye sistem Islam (Khilafah) sebagai alternatif solusi”. Tentu disini ada perbedaan yang mencolok bahwa video ini bukan untuk mengunggulkan calon yang lainnya. Gema Pembebasan telah menggariskan ideologi politiknya secara gamblang bahwa demokrasi bukanlah pilihan untuk berpolitik. Artinya ini murni sebuah opini ideologi politik, bukan sebagai politik praktis dan untuk gambling di meja judi demokrasi. Lagi pula kampanye haram pemimpin kafir sama halnya dengan kampanye tentang tolak riba, tolak miras, tolak apapun yang diharamkan oleh syara’.

Mungkinkah kampus ketakutan?

Berbicara kemungkinan kampus bebas dari politik sudah tak mungkin lagi. Isu yang belakangan muncul adalah laporan dari kawan bahwa dekanat ditekan rektorat, rektorat ditekan oleh Luhut Binsar Panjaitan sebagai perangkat rezim yang secara alamiah tak rela terdominasi. Sebuah siklus yang juga ditemui disetiap awalan pergolakan revolusi. Namun sayangnya, bagi mereka, tuntutan Gema Pembebasan ini mengarah pada solusi sistem islam yaitu Khilafah. Dan tentu ini tidak sesuai dengan kepentingan rezim yang telah bersumpah untuk mencegah apa yang sering digombalkan dengan fundamentalisme dan radikalisme.

Secara eksplisit posisi kampus hanyalah perangkat dari kekuatan rezim yang cemas, rezim yang telah kelimpungan dalam memperispkan generasi mudanya agar tetap sekuler. Bisa dibilang kampus hanyalah cemas pada sang ayah saja.

Bahaya di balik larangan politik di kampus


Isu ini telah melambung. Video ini telah banyak dikonsumsi dan melahirkan penolakan yang sama. Gerakan mahasiswa di setiap kampus mulai membaca perlahan aktivitas turun gunung untuk kembali mengontrol kondisi sosial-politik yang telah diawali oleh Gerakan Mahasiswa Pembebasan. Alhasil semakin ditekan akan semakin besar penolakan. Semakin diintimidasi akan lahir sebuah reaksi. Dan menariknya yang mendominasi ide gerakan mahasiswa saat ini adalah masifnya tuntutan penerapan Islam dengan sistem Khilafah. Dan bahaya ini hanya akan dirasakan oleh rezim dimanapun yang tak mau kepentingannya didominasi, apalagi sampai dihilangkan. Untuk itu, selamat! Arus baru perubahan telah dimulai. []