Mengembalikan Jati diri Parpol Islam


Oleh : Naowati, S.Kom
Aktivis MHTI Sultra)

Muncul tanda tanya besar, bagaimana mungkin partai Islam tapi menyatakan dukungan kepada seorang pemimpin kafir apalagi setelah viral pernyataan Ahok yang menghina Al Qur’an?

Aksi mendukung Ahok untuk maju di pilgub Jakarta masih menjadi perbincangan hangat. Setelah Partai Golkar, Hanura, Nasdem dan PDI-P, kini giliran PPP versi Djan Faridz yang menyatakan dukungannya, sebagamana dilansir dari Liputan6.com, Jakarta - DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz menyatakan dukungannya pada pasangan bakal calon gubernur dan Wakil Gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI Jakarta 2017. Djan Faridz mengatakan, sikap tersebut diputuskan seusai rapat pleno pada Selasa 4 Oktober 2016 dan juga hasil silaturahmi nasional DPP PPP se-Indonesia, Kamis 6 Oktober kemarin. "DPP PPP menyatakan sikap mempertimbangkan untuk mendukung pasangan Ahok-Djarot," ujar Djan di kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (7/9/2016). Eramuslim.com – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Muktamar Jakarta, Djan Faridz, telah secara resmi memutuskan dukungan pada Pilkada DKI 2017 nanti ke pasangan Ahok-Djarot yang sebelumnya telah diusung PDIP, Golkar, Hanura, Nasdem. Menyikap hal ini tentu muncul tanda tanya besar, bagaimana mungkin partai Islam tapi menyatakan dukungan kepada seorang pemimpin kafir apalagi setelah viral pernyataan Ahok yang menghina Al Qur’an?

Parpol Islam Minus Ideologi Islam

Bahkan parpol Islam tak lagi terlihat menyuarakan Islam, malah seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam dan menyebut gagasannya sebagai gagasan Islami.

Pudarnya sifat ideologis parpol Islam saat ini tercermin pada tidak adanya visi, misi, platform pemikiran dan kerangka ide dan konsepsi yang jelas yang diperjuangkan oleh parpol dan diserukan kepada rakyat. Bahkan parpol Islam tak lagi terlihat menyuarakan Islam, malah seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam dan menyebut gagasannya sebagai gagasan Islami. Sebaliknya, semua parpol malah berlomba menggunakan slogan-slogan demokrasi, nasionalisme, humanisme, HAM dan slogan-slogan yang identik dengan sistem sekuler demokrasi. Inilah realitas parpol Islam hari ini, penerapan system kapitalis sekuler, sebuah system yang memisahkan agama dari kehidupan telah sukses memperdaya parpol Islam semakin jauh dari khittah yang seharusnya. Pada akhirnya terperangkap dalam kubangan pragmatisme, koalisi bukan dengan sesama parpol Islam dan yang paling parah adalah mendukung Ahok yang sudah jelas kekufurannya.

Parpol Islam seyogyanya menjadi representasi suara umat. Maraknya reaksi keras yang ditunjukkan oleh umat terhadap Ahok yang dituding telah menistakan Al qur’an, semestinya menjadikan parpol Islam yang mengawal umat untuk melakukan perjuangan politik menuntut Ahok. Alih alih mengawal, malah mendukung, ironis! Lalu dimana identitas “Islam” disematkan? Hanya slogan, selebihnya  “Islam” hanya sebagai pemanis. Tarikan pragmatisme jauh lebih kuat dibandingkan ideologi, hasilnya? Parpol Islam minus ideology Islam!

Mengembalikan Jati diri Parpol Islam

Sejatinya parpol Islam menjadi representasi suara umat  sebab parpol Islam dibangun di atas dasar ideologi Islam, yakni Islam sebagai sistem hidup, sistem hukum, dan sistem pemerintahan

Jati diri parpol Islam yang harus dijadikan khithah telah ditentukan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Imam ath-Thabari dalam tafsirnya Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân menjelaskan, “Yakni Allah SWT berfirman, hendaklah ada di antara kamu, hai kaum Mukminin, segolongan umat yakni jamaah yang menyeru manusia kepada kebajikan (al-khayr) yakni kepada Islam dan syariahnya.” Untuk itu parpol Islam mesti menjadikan akidah Islam sebagai asas. Bukan hanya formalistik tercantum dalam Anggaran Dasar, tetapi juga secara riil tercermin dalam visi dan misinya; tujuan dan target yang disusun; ide, gagasan dan konsepnya; seruan dan slogan; sikap dan kebijakan; ikatan antar anggota dan kadernya; perilaku para pejabat, politisi dan kadernya; serta semua hal yang berkaitan dari parpol tersebut.

Sejatinya parpol Islam menjadi representasi suara umat  sebab parpol Islam dibangun di atas dasar ideologi Islam, yakni Islam sebagai sistem hidup, sistem hukum, dan sistem pemerintahan. Dengan kata lain, mereka mengemban Islam yang bersifat ideologis dan politis. Islam harus menjadi jatidiri dan rahasia keberlangsungan hidup parpol serta keberlangsungan hidup kaum Muslim. Aktivitas parpol tersebut seluruhnya terikat dengan panduan hukum-hukum Islam yang menjadi mercusuarnya Meski ada empat fungsi partai politik, yaitu: fungsi agregasi, edukasi, artikulasi, dan rekrutmen. (Sigmund Neumann, 1981), namun lebih dari itu, jika dicermati secara intens, dalam Islam, peran dan tugas parpol sangat luas. Pertama: Parpol wajib mengoreksi penguasa. Keberadaan parpol dalam Islam memiliki tugas atau kewajiban sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah Swt., yakni mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar (lihat: QS Ali Imran [3]: 104). Di tangan penguasalah puncak kemakrufan atau kemungkaran. Karena itu, fungsi utama amar makruf dan nahi mungkar bersentuhan langsung dengan pihak penguasa. Rasullah SAW. bersabda: Pemuka para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa zalim untuk melakukan amar makruf nahi mungkar kepadanya, lalu penguasa tersebut membunuhnya. (HR al-Hakim). Hadis ini menunjukkan bahwa tugas parpol adalah melakukan koreksi terhadap penguasa. Jika dalam perjalanan kekuasaannya penguasa melakukan penyimpangan maka tugas dan kewajiban parpol Islam untuk meluruskannya agar sesuai dengan sistem (hukum) Islam. Fungsi perbaikan (ishlâh) hanya dapat dipahami dalam konteks penguasa memang diangkat berdasarkan sistem (hukum) Islam dan dalam rangka menerapkan hukum Allah Swt. Namun, jika penguasa diangkat berdasarkan sistem (hukum) kufur yang mengatur masyarakatnya maka yang dilakukan parpol Islam adalah perubahan total (taghyîr). Kedua: bertumpu pada orang-orang yang memiliki kesadaran politik yang benar, berniat hanya untuk memperjuangkan Islam dan kaum Muslim, serta hanya mencari keridhaan Allah saja. Rasa takutnya hanya kepada Allah semata, bukan terhadap makhluk-makhluk-Nya. Tentu saja, dengan catatan sebuah parpol Islam harus mengedepankan kepemimpinan ideologis (qiyâdah fikriyyah)-nya dan berupaya jangan sampai muncul benih-benih figuritas atau paternalistik yang bisa menghancurkan parpol itu sendiri serta akan merusak kemurnian ide maupun metode. Ketiga: ikatan yang menjalin anggota parpol, simpatisan, maupun para pendukungnya adalah ikatan (akidah) Islam. Hubungan mereka dilandasi ukhuwah islamiyah; satu dengan yang lainnya laksana saudara (lihat: QS al-Hujurat [49]: 10).


Alhasil hanya parpol Islam ideologislah yang akan memimpin dan mengawal umat untuk terus berada pada jalan yang dikehendaki Allah dan rasulNya, bukan jalan orang orang yang menyimpang termasuk memberi dukungan kepada pemimpin kafir. Wallahu A’lam. []

Editor: Yustia