Menghadapi Abu Jahal dalam Darah Ahok


Oleh: Aab Elkarimi
(Pemimpin Redaksi Sholihah.web.id)

Sholihah.web.id, Sebagian umat Islam (bahkan bisa dikatakan seluruhnya) pernah mendengar nama Abu Jahal. Ia adalah salah satu preman Kafir Qurays yang hari demi harinya dihabiskan untuk menentang dakwah nabi. Perangainya yang kejam, ucapannya yang kotor dan menyakitkan, serta tindakannya yang kasar, telah dikenal di seantreo jazirah Arab, menenggerkan Abu Jahal pada satu predikat orang yang paling terkenal untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW. 

Sosok Abu Jahal merupakan representasi dari ketidakrelaan meneima kebenaran dikarenakan tertutupnya mata, telinga, dan hatinya untuk Islam. Kesombongan dalam penentangan terhadap dakwah nabi mengharuskan Sumayyah beserta Yasir syahid akibat siksaan yang dilakukan oleh Abu Jahal.

Dari sini satu pendokumentasian resmi dari sosok penentang dakwah Islam terajut dalam benak kaum muslimin. Dan kiranya di era modern ini Abu Jahal-Abu Jahal baru telah lahir meski dengan jelmaan yang berbeda. Abu Jahal baru yang tetap kafir, berperangai kasar, ucapannya menyakitkan, telah banyak ditemui. Penentangannya terhadap Islam tidak lagi malu-malu, ucapannya yang kasar sudah menjadi makanan. Meski bisa dikata belum kaffah menjadi abu jahal, tapi dalam darahnya telah nyata mental-mental Abu Jahal yang kian hari kian membesar.

Tentu saya secara pribadi tidak bermaksud untuk memberi gelar pada salah seorang yang sedang ramai diperbincangkan. Ahok. Jutaan kaum muslimin yang merasa terlukalah yang secara alami membentuk penjara sosial bagi Ahok atas tindakan reflektif yang berucap memakai dengkul. Tensi Pemilukada yang akan digelar tahun depan ini sudah membentuk pusaran-pusaran pertempuran di akar rumput. 

Secara pribadi saya memandang pertempuran ini bukanlah pertempuran yang ahsan. Maksud saya, pertempuran untuk menghajar Ahok dengan isu agama yang bertujuan memilih kandidat lain dalam rangka gambling di meja judi demokrasi juga tidak bisa dibenarkan. Analogi theologis yang bisa dipakai sebenarnya teramat sederhana. Di zaman rasul hidup untuk menyebarkan risalah Islam, tawaran dari kafir Qurays berupa kekuasaan telah rasul dapatkan. Semestinya jika rasul mengambil analogi ala kita, harusnya beliau mengambil kekuasaan yang ditawarkan Kafir Qurays untuk menerapkan Islam. Namun rasul memberikan teladan dengan ucapan kurang lebih:

Andaikan matahari di tangan kananku, dan bulan ditangan kiriku, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini, hingga Allah memenangkanku atau Aku binasa karena jalan ini.
Dan gayung pun bersambut, Rasul berhasil membentuk pemerintahan Islam di Madinah yang lepas dari ikatan-ikatan jahiliyah. Para penentang dakwah rasul tidak bisa berkutik, Abu Jahal kehilangan akal. 

***

Ada hikmah yang bisa kita ambil dari fenomena Ahok saat ini. Pelajaran besar yang telah Rasul contohkan pada kita mengharuskan kita berjuang untuk menegakkan kalimat Allah dari para pendengki dan penghambat dakwah Islam dengan tanpa ikut-ikutan larut dalam permainan mereka. Karena lewat demokrasilah, kaum kafir bisa berkuasa, riba dihalalkan, dan miras juga dibolehkan. Sementara kita bersikeras membela Islam di atas washilah yang kufr? Apa tidak berlebihan?.

Melanjutkan kehidupan Islam hanya bisa ketika kita meniti jalan yang sesuai dengan tuntunan yang telah rasul kita ajarkan. Tidak dengan Istilah "Rebut dulu, baru ribut". Tidak!. Semestinya yang menjadi fokus kita tetaplah meniti jalan dakwah untuk tegaknya syariah lewat Khilafah.

Wallahu a'lam.

Editor: Yustia