Media Berbuat Kezaliman, Umat Islam Butuh Pembelaan


Upaya pembalikan opini begitu terasa bagi siapapun yang mengikuti sejak awal kasus ini. Tak hanya media barat bahkan tak sedikit media lokal seolah bersekongkol dalam mencitraburukkan Aksi Damai Bela Quran, antara lain mengaitkannya dengan : (1) mengangkat rusuh di pertengahan aksi atau kasus penjarahan di Penjaringan (2) mengecilkan jumlah peserta aksi (3) menuduh aksi ditunggangi kepentingan politik (PILKADA) (4) disusupi ISIS atau agenda Khilafah. Dengan menyebutkan Hardliner (Garis Keras) vs Kristen Ahok.

Oleh: Vivi Kurnia Sari
(Mahasiswa Poltekkes Makassar dan aktivis MHTI Chapter Kampus UMI)

Sholihah- Pasca aksi Bela Quran pada Jum’at, 4 November 2016. Masyarakat dibuat semakin bertanya-tanya akan seperti apa dan bagaimana akhir kasus Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Bagaimana tidak, berbagai pemberitaan dan statemen saling adu bak “bola panas” bergulir nampak terlihat. Respon beraneka ragam dari masyarakat hingga pengamat juga semakin menggeliat.

“Tak akan ada asap, bila tiada api” inilah yang dapat menggambarkan mengapa aksi ini masih terus diperbincangkan serta banyak menarik perhatian masyarakat Indonesia bahkan hingga mancanegara.

Pemberitaan Media Barat Mengenai Aksi Bela Quran

Media massa negara barat begitu intensif melakukan pemberitaan aksi Bela Quran. Sebagian besar menitikberatkan laporan mereka pada babak akhir unjuk rasa atau ketika unjuk rasa menjadi ricuh.    

Di bawah judul "Indonesia protest: Jakarta anti-governor rally turns violent" atau "Demonstrasi Indonesia: unjuk rasa anti pemerintah Jakarta berubah menjadi kekerasan", BBC menyebutkan bahwa bentrok pecah antara polisi dan demonstran yang menolak dibubarkan.         

Sementara itu, Koran Australia, Sidney Morning Herald, menurunkan judul "Demonstrasi Jakarta: Kekerasan di jalanan ketika garis keras muslim menuntut gubernur Kristen Ahok di penjara (Jakarta protest: Violence on the streets as hardline Muslims demand Christian governor Ahok be jailed)."   


Menurut SMH, unjuk rasa yang tadinya berlangsung damai telah berubah menjadi kekerasan menyusul bentrok antara polisi dan demonstran yang berpuncak pada ditembakkannya gas air mata untuk membubarkan demonstran yang masih bertahan di luar Istana Kepresidenan.

Seraya menitikberatkan bahwa demonstran menuntut penangkapanan "gubernur keturunan Tionghoa Kristen", The Herald menyebutkan unjuk rasa ini diikuti sekitar 150.000 orang. (megapolitan.kompas.com, 10 November 2016)

Secara Garis Besar

Upaya pembalikan opini begitu terasa bagi siapapun yang mengikuti sejak awal kasus ini. Tak hanya media barat bahkan tak sedikit media lokal seolah bersekongkol dalam mencitraburukkan Aksi Damai Bela Quran, antara lain mengaitkannya dengan : (1) mengangkat rusuh di pertengahan aksi atau kasus penjarahan di Penjaringan (2) mengecilkan jumlah peserta aksi (3) menuduh aksi ditunggangi kepentingan politik (PILKADA) (4) disusupi ISIS atau agenda Khilafah. Dengan menyebutkan Hardliner (Garis Keras) vs Kristen Ahok.

Dibalik Aksi Bela Quran

Aksi Bela Quran lalu merupakan salah satu bentuk keseriusan umat Islam di Indonesia atas kasus dugaan penistaan Al-Qur’an yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Aksi ini merupakan buntut panjang setelah sebelumnya kejelasan kapan Ahok diperiksa dan diusut tuntas oleh pihak kepolisian tidak menemui titik terang.

Selepas aksi Bela Quran, tak sedikit membuat berbagai pihak kagum dan bangga dengan begitu damainya aksi ini jika dibandingkan dengan jumlah peserta aksi yang mencapai jutaan jiwa.

Seperti yang dijelaskan Ustadz Abdurrahman Djaelani dalam diskusi Redbons. Ia menjelaskan, jumlah peserta aksi damai kemarin mencapai 2,3 juta orang. Kendati demikian, semuanya mempunyai tujuan yang sama, yakni memuliakan Al-Quran dan meminta pemerintah untuk menangkap dan memproses Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). (news.okezone.com, 8 November 2016)

Bahkan dalam diskusi terbuka yang disiarkan secara langsung di salah satu televisi swasta pada Selasa, 8 November 2016. Salah satu narasumber yaitu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dengan tegas menyatakan bahwa aksi pada 4 November sangatlah indah.    

“Satu hal yang bisa saya petik di sini, sebenarnya kalau kita lihat secara dalam, demo yang dilakukan kemarin itu sangat indah. Seperti yang disampaikan oleh Aa Gym tadi, bahwa pada saat demo kemudian ada satu pasangan di depan Katedral yang akan menikah, gitu Aa’ ya. Kemudian santrinya membersihkan jalan yang akan dilewati karena menggunakan rok yang panjang. Ini kan sesuatu yang indah, “ kata Jenderal Gatot.

Tentu saja pernyataan dari sang Jenderal mendapat respon yang sangat luar biasa dari masyarakat. Bak angin sejuk ditengah panasnya usaha menuntut keadilan. Harapan, semangat, serta kekuatan umat seolah semakin bertambah. Meskipun upaya pemberitaan negative akan aksi Bela Quran gencar dilakukan, sang Jenderal dengan gagah menyatakan kagum dan sangat bangga kepada umat Islam Indonesia.

Kita telah banyak menyaksikan berbagai kezaliman media terhadap umat Islam di Indonesia. Mencitraburukkan umat dengan berbagai hal negative, mulai dari isu terorisme hingga radikalisme. Namun tentu saja besarnya upaya yang dilakukan takkan pernah menyurutkan langkah umat Islam di Indonesia khususnya dalam menuntut keadilan akan kasus yang melibatkan Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Umat beserta seluruh ulama dari berbagai wilayah Indonesia akan terus menuntut keadilan yang memang sudah seharusnya didapatkan.

Pengawalan kasus ini akan terus dilakukan hingga umat Islam mendapat kejelasan. Meskipun hambatan, tantangan maupun tekanan begitu jelas dirasakan. Namun, itu semua sama sekali tak menyurutkan langkah umat Islam. Sekali lagi, ini tak ada kaitan dengan kepentingan politik atau siapapun. Kasus ini adalah perkara aqidah yang sepatutnya juga diperjuangkan oleh seluruh umat Islam yang meyakini kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci seluruh umat Islam, tak hanya di Indonesia namun juga mencakup seluruh umat Islam diberbagai belahan dunia.  
Wallahu a’lam bishawab. []


Editor: Yustia