Menyibak Potret Kaum ‘Nyinyiriyun’ dalam Aksi 4 November 2016


Oleh: Aab Elkarimi*

Media sosial dikalangan orang nyinyir telah jauh menembus cakrawala. Geliatnya memporak-porandakan obrolan warung kopi yang masih menjaga kesantunan dan volume suara. Di era medsos nyinyiriyun telah melangkah terbang berbunga-bunga bermodal kuota internet, ponsel, dan akun medsos. Generasi pasca-milennial ini lebih nggilani dari para ideolog warung kopi, mereka bebas berkomentar bersahutan dengan landasan kepandiran

Sholihah.web.id, Kisah Lukman al-Hakim yang mengendarai keledai bersama anaknya patut dijadikan pelajaran. Salah satu penggalan kisah hikmah dari manusia yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an itu mengingatkan kita pada sebuah entitas manusia ahli sorak sorai dan gegap gempita untuk berkomentar sebagai salah satu ujian dalam kehidupan.

Dikisahkan suatu hari Luqman al-Hakim bersama anaknya pergi ke pasar dengan menaiki seekor Keledai. Ketika itu Luqman naik di punggung Keledai sementara anaknya megikuti di belakangnya dengan berjalan kaki. Melihat tingkah laku Luqman itu, ada orang yang berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak merasa kasihan kepada anaknya, dia enak-enak naik keledai sementara anaknya disuruh berjalan kaki.” Setelah mendengarkan gunjingan orang orang, maka Luqman pun turun dari keledainya itu lalu anaknya diletakkan di atas keledai tersebut. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, “Hai, kalian lihat itu ada anak yang kurang ajar. Orang tuanya disuruh berjalan kaki, sedangkan dia enak-enaknya menaiki keledai.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Lukman pun terus naik ke atas punggung keledai itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang-orang juga ribut menggunjing, “Hai teman-teman, lihat itu ada dua orang menaiki seekor keledai. Kelihatannya keledai itu sangat tersiksa, kasihan ya.” Oleh karena tidak suka mendengar gunjingan orang-orang, maka Lukman dan anaknya turun dari keledai itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Hai, lihat itu. Ada dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai itu tidak dikenderai. Untuk apa mereka bawa keledai kalau akhirnya tidak dinaiki juga.”

Kaum Nyinyiriyun di Era Medsos

Tak peduli aksi apa, kegiatan apa, tujuan seperti apa, di hadapan mereka semua mentah. Konsep dasar mereka adalah bahwa peristiwa apapun --terlebih gerakan Islam yang berbau anti sekulerisme-- wajib dikomentari dengan nyinyir hingga berbusa. Mentalitas seperti ini tidak perlu lagi meninjau landasan teologis - politis, asalkan hal itu sejalan dengan ideologi media mainstream yang mereka puja, mereka akan genjot habis-habisan, tentu sambil leyeh-leyeh di kasur dan pesbukan.

Media sosial dikalangan orang nyinyir telah jauh menembus cakrawala. Geliatnya memporak-porandakan obrolan warung kopi yang masih menjaga kesantunan dan volume suara. Di era medsos nyinyiriyun telah melangkah terbang berbunga-bunga bermodal kuota internet, ponsel, dan akun medsos. Generasi pasca-milennial ini lebih nggilani dari para ideolog warung kopi, mereka bebas berkomentar bersahutan dengan landasan kepandiran
.
Keberadaan kaum nyinyiriyun selain dari kalangan independen pemuja media mainstream juga muncul di kalangan akademisi liberal, mahasiswa, tim sukses partai, hingga anak alay. Dan segmentasi ini akan terus berkembang menjadi sebuah galaksi auto-pilot dalam diskusi dan komentar-komentar media sosial tanpa moderator.

Nyinyiriyun dalam Aksi 4 November 2016

Rilis resmi dari GNPF-MUI meyebutkan peserta aksi mencapai 2 juta masa. Sebuah unjuk rasa kaum muslim terbesar sepanjang sejarah Indonesia yang patut dicatat dan dibingkai. Alasannya pun tak main-main, karena seekor Ahok yang nyinyir dengan Al-Maidah 51-lah semua bergerak. Alhasil kekuatan kaum muslimin tidak bisa dianggap remeh. Kaum muslimin merupakan aset terbesar bangsa ini. Terlihat dalam aksi ini dorongan akidah telah membungkus jiwa mereka untuk lebih memilih Allah ketimbang segalanya. Lalu dinamakanlah aksi ini dengan sebutan aksi #BelaQur’an, #BelaIslam, dan sebutan lain yang relevan dengan identitas kemusliman.

Tiba-tiba dan sekonyong-konyong nyinyiriyun pun mengambil posisi sebagai kritikus dan komentator. Saat panas terik membersamai peserta aksi dan lantunan dzikir, takbir, tuntutan keadilan terhadap sang penista diutarakan, nyinyiriyun sigap memantengi layar ponsel dan sibuk merangkai kalimat biar tak dianggap kudet. Sebutan Middle Class ngehe tak bisa luput dari mereka. Pasalnya kebanyakan mereka sibuk mencari status di tengah himpitan ekonomi. Pemuja populis dan narsis teramat sulit dihilangkan kesannya dari mereka. Agaknya soal akidah dan keimanan, nyinyiriyun yang beragama Islam ebih mendekati golongan munafik meskipun butuh klasifikasi dan penuh kehati-hatian untuk menyebutnya.

Demikianlah sekilas potret orang nyinyir yang berubah jamak menjadi nyinyiriyun karena saking banyaknya. Semoga kita bukanlah termasuk golongan demikian. Mereka ramai di dumai, senyap di alam nyata. Bisa jadi hanya karena mereka kurang kopi. Wallahua’lam. []

*Penulis adalah pemimpin redaksi sholihah.web.id