Pak Jokowi, Umat Datang Menangih Janji!

sudah selayaknya umat Islam menerapkan seluruh isi al-Quran. Jika Ahok melecehkan al-Quran dengan kata-kata kasarnya, semoga kita tidak “melecehkan” dan “menistakan” al-Quran dengan tindakan kita, yakni dengan keengganan kita menerapkan hukum-hukum al-Quran (syariah Islam) secara kâffah dalam kehidupan kita.

Oleh: 
Risnawati, STP (Aktivis MHTI Kolaka)

Sholihah.web.id, Sebagaimana diberitakan di sejumlah media online, akan ada aksi umat Islam secara besar-besaran yang digelar beberapa kelompok umat Islam pada Jumat (4/10) mendatang. Aksi ini buntut dari pernyataan Ahok yang menyinggung surat Al Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. Atas pernyataan itu, Ahok juga dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama. Aksi itu bertajuk, “Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI”. “Aksi Bela Islam II” dengan tajuk “Ayo Penjarakan Ahok”—yang telah menista agama, menodai al-Quran, melecehkan ulama dan menghina umat Islam—ini direncanakan akan digelar pada 4 November 2016, ba’da shalat Jumat di Masjid Istiqlal, dilanjutkan dengan longmarch ke Istana Presiden RI (http://www.fpi.or.id/2016/10/ikutilah-aksi-bela-islam-ii-ayo.html?m=1).

Seperti dilansir dalam Jakarta - Aksi besar-besaran akan digelar pada Jumat, 4 November nanti sebagai kelanjutan protes atas pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga menistakan agama. Apa respons Presiden Joko Widodo soal ini?

"Demonstrasi adalah hak demokratis warga, tapi bukan hak memaksakan kehendak dan bukan hak untuk merusak," ucap Presiden Jokowi usai menghadiri acara 'Hari Menabung Nasional' di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (31/10/2016).

Jokowi mengatakan pemerintah akan menjamin hak menyampaikan pendapat, tapi juga akan mengutamakan ketertiban umum. Selain itu, Jokowi sudah memerintahkan aparat keamanan untuk siaga mengawal aksi tersebut. (http://news.detik.com)

[portalpiyungan.com] BANDUNG - Pimpinan Daarut Tauhiid KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam taushiah Ahad pagi tadi, 30 Oktober 2016, menyampaikan statemen terkait Aksi Umat Islam pada Jumat mendatang, 4 November 2016, di Jakarta.

Setelah menyampaikan taushiah pada Kajian di Masjid Daarut Tauhid Bandung, di akhir sebelum menutup kajian, Aa Gym menyampaikan pernyataan terkait Skandal Ahok dan Aksi Umat Islam 4 November: Berikut pernyataan Aa Gym (video mulai menit 49):

“Sehubungan dengan Aksi Damai mengawal Fatwa MUI, semoga rencana aksi tanggal 4 November menggugah banyak pihak untuk sungguh-sungguh menyelesaikan ini dengan seadil-adilnya. Jikalau terkesan lambat dan mengulur maka inilah yang membuat umat Islam akan semakin kecewa. Sungguh besar harapan kepada Pak Jokowi Presiden RI yang ditemui Ahok sebelum datang ke polisi pasti memahami bahwa ini bukan perkara sederhana, cukup satu ayat saja... ayat Allah pemilik jagad semesta diremehkan maka dampaknya seperti ini”.

Pojoksatu.Id, JakartaAnggota Komisi III DPR Aboe Bakar Al Habsy mengingatkan Polri perlu untuk menegaskan komitmennya bertindak secara profesional dan projustitia, dalam persoalan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Dia mengatakan, sebelumnya Polri pernah disorot enggan memproses laporan dugaan penistaan agama lantaran belum ada fatwa Majelis Ulama Islam. Hal ini memang tak pernah terjadi sebelumnya, karena Polri memiliki kewajiban menerima laporan masyarakat apa pun isinya. Kemudian, lanjut dia, Polri kembali disorot lantaran ingin menunda perkara ini. Alasannya,  ada peraturan kapolri tentang penundaan sementara proses hukum kepada calon kepala daerah yang dilaporkan atau tersangkut kasus pidana tertentu. “Publik tentunya cukup geram, lantaran sepertinya Basuki memiliki kekebalan hukum dan bertindak semaunya sendiri, dan tindakannya melukai umat Islam,” kata Aboe, Minggu (16/10).

Kasus itu masih bergulir di Bareskrim dan Ahok sudah memberi kesaksian. Aksi 4 November nanti akan turut dihadiri beberapa tokoh di antaranya Fadli Zon dan Fahri Hamzah, termasuk tokoh-tokoh Islam seperti Aa Gym dan lainnya.

Umat Islam Wajib Marah!

Di tengah penistaan Ahok terhadap Islam dan umatnya secara berulang, masih saja ada tokoh yang menyerukan agar umat bersikap sabar dan tidak emosional (baca: marah). Padahal marah tidak selalu tercela. Dalam kondisi tertentu, marah justru terpuji.

Karena itu, siapapun yang mengaku Muslim tentu patut mendukung aksi umat untuk mengawal fatwa MUI ini, yang antara lain mendesak Ahok untuk segera diadili. Aksi umat ini sebetulnya hanyalah puncak dari rangkaian aksi serupa yang telah berlangsung selama beberapa pekan di berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk kemarahan umat atas pernyataan Ahok beberapa waktu lalu. Sebagaimana diketahui, seraya mengutip QS. al-Maidah ayat 51 tentang keharaman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, Ahok menuduh al-Quran dan para ulamanya telah membohongi dan membodohi umat.

Marah sejatinya menunjukkan masih adanya ghirah (cemburu, semangat). Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu dan orang Mukmin pun cemburu. Allah cemburu saat orang Mukmin melakukan apa yang telah Dia haramkan atas dirinya”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kata Buya Hamka, ghirah artinya menjaga syaraf diri atau cemburu. Buya Hamka antara lain menyebut cemburu karena agama. Adanya rasa cemburu ini, menurut Buya, adalah simbol masih hidupnya jiwa seorang Muslim. Artinya, jika sudah tak ada lagi ghirah ini, kata beliau, “Ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan.”

Teladan kita, Rasulullah Saw. memang adalah manusia yang paling mampu mengendalikan amarahnya dan paling bagus akhlaknya. Hal itu dipertegas oleh sabda beliau sendiri, “Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat. Orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.” (HR al-Bukhari).

Namun, dalam kondisi tertentu, Rasulullah saw. pun bisa marah. Ada riwayat yang menyatakan, “Sungguh, Nabi saw. tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi amarah beliau.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain dinyatakan, “Tidaklah beliau membalas karena dirinya kecuali kehormatan Allah SWT dilanggar hingga beliau pun marah.” (HR al-Bukhari).

Dengan demikian dalam banyak hal kita pun harus marah, misal: saat kehormatan Islam dilecehkan, saat orang-orang kafir mengolok-olok Islam, saat kaum liberal mengacak-acak al-Quran, saat saudara-saudara sesama Muslim dihinakan bahkan dibantai tanpa belas kasihan oleh musuh-musuh Islam, dsb. Dalam hal seperti ini kita bukan hanya boleh marah, bahkan wajib marah.

Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, segala bentuk penistaan terhadap Islam dan syiar-syiarnya sama dengan ajakan berperang dan pelakunya ditindak tegas. Seorang Muslim yang melakukan penistaan dihukumi murtad dan dia akan dihukum mati. Apalagi bila itu dilakukan orang orang-orang kafir sendiri.

Penistaan al-Quran oleh orang kafir semacam Ahok sebetulnya bukan hal baru. Penistaan itu sudah dilakukan oleh kaum kafir sejak al-Quran ini turun kepada Rasulullah saw. Sikap inilah yang pernah diadukan oleh Rasulullah saw. kepada Allah SWT: Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang dicampakkan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).

Sayang, akibat dahsyatnya gempuran pemikiran Barat dan kebodohan umat dalam titik terendah, saat ini tidak sedikit yang bersikap ‘diskriminatif’ terhadap al-Quran. Mereka bisa menerima tanpa ragu hukum-hukum ibadah atau akhlak, tetapi menolak hukum-hukum al-Quran tentang kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, pidana, atau hubungan internasional. Padahal, mengimani sekaligus mengamalkan al-Quran tentu harus menyeluruh; mencakup semua ayat yang ada di dalamnya. Mengingkari satu ayat al-Quran telah cukup menjerumuskan seseorang dalam kekafiran (QS an-Nisa’ [4]: 150-151).

Al-Quran berisi sekumpulan hukum yang mengatur seluruh segi kehidupan (QS an-Nahl [16]: 89). Namun, ada sebagian hukum itu yang hanya bisa dilakukan oleh negara semisal hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik luar negeri; termasuk pula hukum-hukum yang mengatur pemberian sanksi terhadap pelaku pelanggaran hukum syariah. Hukum-hukum seperti itu tidak boleh dikerjakan oleh individu dan hanya sah dilakukan oleh Khalifah atau yang diberi wewenang oleh Khalifah.

Karena itu, sudah selayaknya umat Islam menerapkan seluruh isi al-Quran. Jika Ahok melecehkan al-Quran dengan kata-kata kasarnya, semoga kita tidak “melecehkan” dan “menistakan” al-Quran dengan tindakan kita, yakni dengan keengganan kita menerapkan hukum-hukum al-Quran (syariah Islam) secara kâffah dalam kehidupan kita.

Alhasil, umat Islam tetap harus menjaga ghirah-nya. Dengan ghirah yang tetap menyala, sejatinya aksi besar-besaran umat Islam tak berhenti pada upaya menuntut kepada Pemerintah agar para penista al-Quran semacam Ahok segera diadili. Aksi besar-besaran umat Islam harus terus dilanjutkan dengan tuntutan kepada para penguasa untuk segera menerapkan seluruh isi al-Quran (syariah Islam) secara kâffah dalam insitusi Khilafah ‘ala minhâj an-nubuwwah. Hanya dengan itulah segala bentuk penelantaran dan penistaan al-Quran bisa diakhiri.


Ayo kembalikan Islam kaffah, Islam yang menyeluruh, yang kita pakai sempurna untuk mengatur kehidupan tidak sebatas individu tapi sampai level negara bahkan dunia untuk menggantikan Kapitalisme. Ayo kembalikan Islam sebagai sistem kehidupan sehingga terwujud Islam rahmatan lil ’alamiin. Allahu Akbar!. []

Editor: Yustia