Sistem Sekuler Suburkan Media Provokator


Oleh : Risnawati, STP.
(Staf Dinas Pertanian & Aktivis MHTI Kolaka)
Penghasutan wacana yang begitu besar, mulai dari liberalisasi agama, kampanye anti syariat Islam, sekularisasi hingga pengaburan sejarah mulai menjadi makanan sehari-hari umat Islam. Kita terpaksa menelan yang tidak baik untuk kita. Hal ini, merupakan buah dari penguasaan wacana yang begitu sistematis dan terarah dari pihak-pihak pengusung nilai-nilai sekular dan liberal.  Bahkan menurut Edward Said, “Media mengatakan apa yang mereka harapkan tentang Islam, karena mereka mampu.”
Sholihah - Akhir-Akhir ini semakin terasa tekanan yang begitu hebat terhadap umat Islam di Indonesia. Terutama respon media terhadap aksi bela Islam II tanggal 04 November 2016, yang begitu menyudutkan umat Islam dan menggusur nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Opini yang menyerang nilai-nilai Islam itu dibentuk oleh berbagai aspek salah satunya pembohongan tentang kronolis Aksi Bela Islam II dan oleh beberapa media provokator seperti kompas.com dan lain-lain.

Hal ini mendapat tanggapan serius dari Gerakan Nasional Pendukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) membantah telah melanggar aturan batas waktu saat berunjuk rasa pada Jumat (4/11) lalu di Jakarta. Aksi damai untuk menuntut penuntasan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu berlanjut hingga malam lantaran juru runding GNPF MUI masih berada di Istana bersama Wapres dan sejumlah menteri.

Berdasarkan ketentuan, demonstrasi harus berakhir pukul 18.00 WIB. Akan tetapi, ustaz Bachtiar Nasir menampik GNPF MUI melanggar peraturan Kapolri mengenai batas waktu penyampaian pendapat di muka umum. “Aksi memang berlanjut hingga lewat pukul 18.00 WIB, namun kami dalam posisi bernegosiasi dengan Wapres,  Menkopolhukam, dan Panglima TNI di Istana,” jelas Bachtiar dalam jumpa pers GNPF MUI di Jakarta, Sabtu (5/11).

Di luar, massa masih menantikan perkembangan perundingan. Juru runding GNPF MUI sebelumnya telah dua kali mencoba menemui Presiden Joko Widodo, namun upaya itu tak membuahkan hasil. Pihak Istana menawarkan pertemuan dengan pembantu presiden sebagai utusan resmi Presiden RI.
Peserta aksi damai 4 November tak berkenan dengan penawaran tersebut. Setelah menyambangi Istana untuk ketiga kalinya, juru runding GNPF MUI ditemui Wapres Jusuf Kalla dan beberapa petinggi negara. “Pada pukul 18.30 WIB, perundingan masih berlangsung” ungkap Bachtiar. (republika.co.id, 5/11/2016)

Ironisnya, pengaruh media massa saat ini didominasi bukan oleh media yang memperjuangkan nilai-nilai Islam, namun dijejali dengan media berbasis sekuler. Berapa banyak harian Islam yang bisa disebut di Indonesia? Berapa jari yang bisa dihitung ketika menyebut televisi Islami? Di layar kaca, materi Islam hanya singgah saat orang masih terlelap, dan semarak ketika bulan ramadhan tiba. Itu pun belum jelas, yang menyampaikan pelawak atau dai. Maka ketika berbagai opini yang bertentangan dengan Islam, umat dibuat kebingungan. Begitu massif dan intens opini tersebut muncul, sehingga wacana kontra nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit terbentuk memenuhi benak umat.

Jurnalislam.Com – Ini adalah fakta terkenal yang nyata bahwa media Barat (sekuler)  bias terhadap Islam dan Muslim. Semua umat Islam di seluruh dunia yang membaca surat kabar harian di kota-kota mereka, menonton televisi atau mendengarkan radio sangat menyadari hal ini dan mereka tahu bagaimana kaki tangan kekuasaan Barat dan stake holder khususnya Amerika dan sekutu dekatnya menggunakan media untuk menentang Islam dan umat Islam. Hal ini ditegaskan oleh pengalaman banyak individu dan organisasi Muslim. Jika kita melakukan analisis, banyak bukti menunjukkan bahwa ada kecenderungan untuk melaporkan dan memalsukan tindak kekerasan palsu yang dilakukan oleh umat Islam namun sebaliknya tidak melaporkan kekerasan yang dilakukan barat terhadap Muslim. Tren ini sekarang menjadi standar ganda oleh barat untuk memaksimalkan pengaruh politik dan ekonomi dalam perang melawan Islam dan Muslim.

Omong Kosong Kebebasan Berekspresi di Negeri Demokrasi

Media liberal terus berusaha untuk mengecam bahkan membungkam mereka yang tidak setuju dengan nilai-nilai cacat sekuler liberal yang mereka anut dan ini merupakan cerminan kemunafikan dan kelemahan sistem sekuler demokrasi. Karena demokrasi selalu menerapkan kebebasan berekspresi tebang pilih.

Penghasutan wacana yang begitu besar, mulai dari liberalisasi agama, kampanye anti syariat Islam, sekularisasi hingga pengaburan sejarah mulai menjadi makanan sehari-hari umat Islam. Kita terpaksa menelan yang tidak baik untuk kita. Hal ini, merupakan buah dari penguasaan wacana yang begitu sistematis dan terarah dari pihak-pihak pengusung nilai-nilai sekular dan liberal.  Bahkan menurut Edward Said, “Media mengatakan apa yang mereka harapkan tentang Islam, karena mereka mampu.”
Untuk mengatasi bias media itu jelas penting untuk memahami dan pemahaman yang terbaik adalah dimulai dengan fakta yang jelas bahwa media Barat yang digunakan dan dikendalikan oleh instansi pemerintah dan didanai oleh mereka, seperti juga alat lainnya, dijalankan terutama untuk tujuan mereka sendiri dan untuk memaksakan ide-ide dan keinginan mereka. Dalam era modern informasi dan teknologi dan jaringan sosial kita dengan jelas melihat berapa banyak penekanan diberikan kepada media yang digunakan sebagai alat memerangi Islam dan umat Islam di seluruh dunia .

Hal ini mengingatkan apa yang dikatakan Noam Chomsky dalam bukunya “Kuasa Politik Media” yang mengungkap peran propaganda media massa dalam rekayasa opini publik, dimana para penguasa sebenarnya memiliki tujuan yang kontraproduktif dengan keinginan publik/ rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan, bahkan Noam Chomsky juga mengatakan bahwa pengusaha media liberal telah mendidik orang-orang bodoh sebagai corong pengusaha dan penguasa.

Dahsyatnya penguasaan wacana rusak  ini, merupakan buah dari jalinan intim media sekuler dengan akademisi, pemerintah, bahkan donatur (pengusaha). Kita tahu bagaimana media seringkali mengutip pendapat seorang akademisi (ahli) tertentu, untuk menguatkan sudut pandangnya. Tentu saja mereka hanya memuat pendapat ahli atau akademisi tadi yang sepaham dengan media tersebut. Cara ini memang efektif untuk memberikan legitimasi terhadap wacana tertentu. Sebagai contoh, ketika media berbicara kerukunan beragama di masyarakat, maka seringkali yang dikutip sumber-sumber dari LSM pengasong pluralisme agama. Kutipan narasumber seperti ini menjadi semacam legitimasi. Legitimasi ini juga seringkali diperkuat dengan dalih-dalih yuridis. Maka tidak heran ketika ada wacana anti syariat Islam, dikutip pula pendapat ahli hukum, yang membentur-benturkan syariat dengan Pancasila atau UUD ‘45.

Ahli atau akademisi tadi biasanya tergabung dalam sebuah lembaga atau LSM yang di danai oleh pengusaha tertentu yang memiliki visi-visi tertentu pula.  Ada pula, beberapa lembaga turut membiayai akademisi untuk menuntut ilmu lanjutan di universitas-universitas barat dengan studi Islam. Disinilah jejaring itu terjalin sejak dini. Jaringan ini semakin berkembang ketika aktivis atau akademisi yang dahulu bercokol di LSM semacam tadi, kemudian menduduki kursi legislatif, dan menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Lingkaran ‘setan’ ini berputar secara berkesinambungan, menguatkan satu sama lain, dan dibangun sejak lama.

Kenyatannya saat ini, memang media tidak (akan) berpihak terhadap urusan kaum Muslimin. Lalu pertanyaan adalah, bagaimana caranya umat Islam memenangkan perang media dalam sistem sekuler?

 Pandangan Islam

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaf 61:8)
Media massa merupakan salah satu corong pembentukan wacana yang memiliki  pengaruh sangat dahsyat. Media massa menjadi kekuatan untuk menyebarkan gagasan, bahkan dapat menentukan apa yang baik dan buruk. Pengaruhnya mampu untuk mendefinisikan nilai-nilai tertentu sehingga diterima dan diyakini kebenarannya dalam masyarakat. Ia bahkan dapat memberi legitimasi untuk gagasan tertentu dan mendeligitimasi gagasan yang dianggapnya menyimpang.
Karena itu, kaum muslim harus secara massif menguasai media massa. Hanya dengan menguasai media massa, maka umat Islam akan terbendung dari wacana menyimpang yang ditelurkan media-media sekuler. Adalah tindakan sia-sia untuk membenci dan mengutuk media massa. Sebaliknya menjadi media massa adalah tindakan yang mulia. Karena media massa seharusnya menjadi ladang untuk menyeru pada kebaikan dan membasmi kemungkaran. Media massa sudah sepatutnya menjadi corong dakwah untuk kebaikan masyarakat luas.

Umat Islam harus disadarkan, bahwa ketinggian dan kemuliaan mereka hanya bisa diwujudkan kembali jika mereka telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya sudut pandang dan sistem hidup mereka. Selain itu, umat juga harus disadarkan bahwa kehancuran dan kemerosotan peradaban dunia disebabkan karena diterapkannya paham kapitalis-sekular, dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam. Umat Islam juga harus disadarkan, bahwa revitalisasi umat Islam tidak akan terwujud jika umat Islam mengikuti saran-saran para agen kaum kapitalis-sekular. Kebangkitan Islam hanya bisa diwujudkan dengan cara menerapkan Islam secara menyeluruh dalam sebuah institusi politik Islam, Khilafah Islamiyah; bukan dengan meliberalisasi pemikiran-pemikiran Islam agar sejalan dengan pemikiran-pemikiran kufur Barat.

Begitu briliannya Islam dalam mengatur urusan umat. Karena itu, Indonesia harus bangkit dengan Ideologi Islam. Sebuah ideologi yang berasaskan akidah Islam, dimana ruhnya ialah ibadah mengharap ridho dari Allah SWT. Apapun masalahnya, syariah Islam solusinya. Apapun taruhannya, Khilafah harus di tegakkan. Allahu Akbar!. []

Editor: Yustia