Aleppo: Anak-Anak Mati tanpa Sempat Bertanya, Atas Dosa Apa Bom-Bom Rusia Ditimpakan di Atas Kepala Mereka


Jalan-jalan lengang tanpa manusia, sementara anyir darah beradu dengan kepulan debu yang masih pekat, hangus bangunan dan daging melekat, membaui hidung-hidung sekarat
Sholihah - Aleppo berduka, dentuman bom rusia tanpa merasa bersalah ditimpakan seenaknya. Kekejaman rezim Asad beserta sekutunya telah membuat kerusakan dimana-mana, hinggalah jutaan kucuran air mata kita tidak lagi berharga manakala tangis ratapan yang dimaksudkan bukan untuk menghentikan dan mendoakan. 

Pembaca sholihah yang budiman, dunia Islam kali ini sedang ditimpa malapetaka besar berupa kehancuran yang ditimbulkan oleh mulkan jabriyyan, rezim diktaktor yang rela membrangus semua rakyat hanya karena tak mau dominasinya digeser, ini persis dengan apa yang diprediksi nabi dalam sebuah hadist riwayat Ahmad tentang fase ke-empat yaitu fase mulkan jabriyyan, fase terakhir sebelum fajar Islam nampak kembali. Sebuah fase dimana kesabaran terus diuji dan ikhtiyar sangat diperlukan. 

Pembaca sholihah yang budiman, fokus redaksi kali ini akan mengulas tentang Aleppo yang telah dibombardir Rusia dan sekutunya. Kali ini dukungan untk rakyat Aleppo datang dari Ustadz muda kondang keturunan Tionghoa, Felix Y. Siauw. Dalam tulisan yang diposting pada Kamis, (15/12) di laman facebooknya berjudul "Kami Bersamamu Aleppo" beliau mengungkapkan duka dengan bait-bait syair yang mencekik leher. Berikut redaksi paparkan:

Kami Bersamamu Aleppo


Jalan-jalan lengang tanpa manusia, sementara anyir darah beradu dengan kepulan debu yang masih pekat, hangus bangunan dan daging melekat, membaui hidung-hidung sekarat

Anak-anak mati tanpa sempat bertanya, atas dosa apa bom-bom Rusia ditimpakan diatas kepala mereka, yang selamat pun lebih sakit menanggung hilangnya anggota keluarga

Wanita-wanita lebih memilih bunuh diri dibanding dinista para berandal Bashar Asad, mereka tak menemukan lagi yang lebih menyakitkan daripada neraka dunia yang tampak ini

Sementara lelaki-lelaki pemberani terkepung dan mati terbantai, oleh bangsa penyembah api Iran dan sekutunya, dendam lama yang kini menemukan masa untuk melampiaskan benci

Rumah itu ada, namun tak ada penghuninya, ganti reruntuhan sebagai peristirahatan mayat-mayat tertimpa, yang nurani dunia mati bersamanya, sebab dunia diam melihat pembantaian

Kota yang dulu menjadi permatanya dunia, kini hancur lebur berikut harapan penduduknya, satu lagi tumbal bagi keserakahan rezim, dan penjajahan legal para penguasa dunia hari ini

Aleppo, Damaskus, Gaza, entah berapa kali ketukan pahit ini nantinya akan berhasil membangunkan ummat Muslim yang telah lama tidur, telah lama abai terhadap jiwa mereka

Duhai ummat, tak cukupkah bagi kita melihat tanda-tanda yang Allah kirimkan bagi kita? Bahwa kekuatan kita adalah saat kita dipersatukan oleh akidah dan ukhuwah yang benar?

Kapankah kita melihat kembali #Khilafah yang akan membela kehormatan darah-darah pemurni tauhid, yang jadi perisai lisan-lisan mungkil generasi syahadat sempurna?

Sampai saat itu, mungkin kita harus tahan menutup muka dengan sepuluh jari, dan berbuat apapun yang kita bisa meringankan luka mereka, walau lewat harta, walau hanya doa

Dan bila itupun engkau keberatan, sungguh tak ada lagi kalimat yang perlu diucapkan kepadamu.

Reporter: Aab
Editor : Yustia