Ancaman Nyata Kaum Gay Membuat Keluarga Rapuh


Setidaknya, akan kita jumpai tiga faktor penyebab maraknya perilaku seks menyimpang, termasuk gay. Pertama, keluarga tidak hadir sebagai wadah pendidikan secara maksimal. Lingkungan luar pun turut menyokong kesalahan ini melalui paham kebebasan. Komunitas LGBT, misalnya, tidak sedikit yang diikuti oleh orang Islam. Ini lebih disebabkan, karena kesalahan pendidikan, baik di dalam rumah, maupun di luar rumah.

Oleh: Hasni Tagili
(Dosen Universitas Lakidende & Aktivis MHTI Konawe)

Indikasi pesta seks kembali diseruakkan oleh kaum gay di Apartemen Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan. Hal ini semakin menambah panjang daftar perilaku keji di tengah masyarakat karena minimnya pendidikan keluarga, kesalahan pola asuh dari orangtua, dan buruknya lingkungan akibat sistem liberalisme yang mengkampanyekan kebebasan.

Catatan Kelam

Polisi mengamankan 13 pria di apartemen Kalibata City. Mereka diduga hendak berpesta seks sesama pria (Liputan6.com, 28/11/2016). Namun, sehari setelahnya, pihak kepolisian memulangkan 13 pria yang diduga gay tersebut. Pemulangan ini dilakukan setelah mereka menjalani pemeriksaan di Mapolsek Pancoran selama lebih kurang 1x24 jam. Kabid Humas Polda Metro, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, mengatakan bahwa mereka dipulangkan karena tidak ada tindak pidananya (Merdeka.com, 28/11/2016). Ya, di Indonesia, being a gay is not gray!

Seseorang yang melakukan penyimpangan seksual bukan lah tindak pidana. Negara menginventarisasikan hal tersebut sebagai salah satu kebebasan bagi warganya. Sehingga, ia tidak dikenai hukuman karenanya. Maka wajar, walaupun adat ketimuran masih dipegang, namun perilaku seks menyimpang justru tumbuh subur di Indonesia.

Masih segar dalam ingatan ketika masyarakat kita dihebohkan oleh perkawinan sejenis di Bali. Setelah itu juga muncul mirip perayaan perkawinan sejenis di Boyolali Jawa Tengah. Paling akhir, isu itu kembali mencuat setelah munculnya lembaga konseling Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia (UI). Menanggapi hal itu, Menristek Dikti Mohamad Nasir mengatakan bahwa kelompok LGBT tidak boleh masuk kampus (Antaranews, 23/01/2016).

Catatan kelam tersebut baru-baru ini terulang untuk yang kesekian kalinya. Dilansir dari Merdeka.com, 24/09/2016, sesi pemotretan pre wedding dan pernikahan kaum gay terjadi di wilayah kota Seni Gianyar, Bali. Seperti diketahui bahwa sesi foto pasangan gay yang sebelumnya diunggah di akun @duasudut_photography jadi perbincangan hangat di sejumlah media sosial. Diketahui bahwa foto yang diambil di wilayah Tegalalang, Gianyar, ini diambil Sabtu pagi dan berlanjut ke pengambilan gambar di daerah kawasan GWK, Pecatu, Badung. Pun walau geram, kita tidak bisa berbuat apa-apa!

Mitos, Ya Mitos!

LGBT tidak terbukti secara ilmiah merupakan fenomena dari faktor gen. Kode gen “Xq28”. yang selama ini ditengarai sebagai gen pembawa kecenderungan fenotepe homoseksual, tidak terbukti mendasari sifat dari homoseksual.

Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, bersama timnya melakukan riset terkait hal itu. Hasil penelitian mereka mengungkap tidak adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999. Hasilnya juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Ruth Hubbard, seorang pengurus “The Council for Responsible Genetics” mengatakan, “Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks.” Jadi, perilaku LGBT bukanlah karena faktor bawaan, bukan faktor keturunan. Perilaku LGBT bukan sesuatu yang “dipaksakan” sehingga tidak bisa ditolak atau harus diterima keberadaannya.

Faktor Pemicu

Setidaknya, akan kita jumpai tiga faktor penyebab maraknya perilaku seks menyimpang, termasuk gay. Pertama, keluarga tidak hadir sebagai wadah pendidikan secara maksimal. Lingkungan luar pun turut menyokong kesalahan ini melalui paham kebebasan. Komunitas LGBT, misalnya, tidak sedikit yang diikuti oleh orang Islam. Ini lebih disebabkan, karena kesalahan pendidikan, baik di dalam rumah, maupun di luar rumah.

Kedua, orangtua menerapkan pola asuh yang salah. Terkadang karena kesibukan, orangtua tidak sempat lagi ‘memfilter’ pergaulan, bacaan, bahkan tontonan yang dipilih oleh anaknya. Anak diberi kebebasan yang belum bisa mereka pertanggungjawabkan.

Ketiga, negara secara tidak langsung ‘mengkampanyekan’ kerusakan perilaku. Ide kebebasan dan HAM yang mendasarinya. Hal ini digunakan sebagai pembenaran perilaku seks menyimpang, termasuk perilaku gay. Padahal ide ini jelas bertentangan dengan Islam.

Islam Menolak Gay

Gay atau homoseksual dikenal dengan istilah liwâth. Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa telah sepakat (ijmak) seluruh ulama mengenai keharaman homoseksual (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, XII/348). Nabi saw. telah bersabda, “Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth” (HR Ahmad).

Jika dikatakan bahwa perilaku seksual menyimpang ini adalah fitrah, maka jelas ini adalah salah. Yang menjadi fitrah adalah adanya naluri untuk melestarikan keturunan atau yang biasa disebut gharîzah naw’. Islam memandang bahwa bangkitnya gharîzah naw’ ini merupakan hal yang wajar atau normal. Hanya saja Islam memberikan aturan secara rinci bagaimana cara untuk memenuhi dan memuaskannya. Islam tidak membiarkan manusia memuaskan nalurinya sesuai dengan hawa nafsunya. Karena itu, ketika laki-laki memuaskan hasrat seksualnya kepada laki-laki atau perempuan memuaskannya kepada perempuan, maka Islam menilai hal ini sebagai penyimpangan terhadap fitrah manusia. Jadi, nalurinya fitrah, tetapi penyaluran naluri ini ke sesama jenis jelas menentang fitrah.

Islam memberikan solusi preventif (pencegahan) terhadap perilaku menyimpang ini dengan cara. Pertama, mewajibkan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat. Kedua, Islam memerintahkan untuk menguatkan identitas diri sebagai laki-laki dan perempuan. Ketiga, Islam mengharuskan pemisahan tempat tidur anak-anak. Keempat, Islam melarang tidur dalam satu selimut. Kelima, secara sistemis negara harus menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Begitu pula segala bentuk tayangan dan sejenisnya yang menampilkan perilaku homoseksual dan lesbianisme atau mendekati ke arah itu.

Selain aturan preventif, Islam juga menetapkan aturan yang bersifat kuratif (menyembuhkan), menghilangkan perilaku seks mnyimpang dan memutus siklusnya dari masyarakat. Bagi para pemula, yang belum sampai melakukan hubungan seksual, maka menyembuhkannya bisa dilakukan dengan cara mengubah pola pikir dan pola sikap mereka terhadap penyimpangan perilaku seks. Adapun bagi pelaku yang sudah melakukan hubungan seksual, Islam menerapkan hukuman yang sangat tegas berupa hukuman mati, baik bagi subyek maupun obyeknya. Dalam hal ini, tak ada perbedaan pendapat di antara para fuqaha’, khususnya para Sahabat Nabi SAW, seperti dinyatakan oleh Qadhi Iyadh dalam kitabnya Asy-Syifa‘. Hanya saja para sahabat Nabi saw. berbeda pendapat mengenai teknis hukuman mati untuk gay (Abdurrahman Al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât, hlm. 21).


Dengan demikian, menjadi amanah bersama bagi kita untuk menyelamatkan kelabunya (gray) ketahanan keluarga akibat perilaku seks menyimpang, termasuk gay, melalui syariat Islam. Wallahu a’lam bisshawab. []

Editor: Yustia