Menyeka Tangis di Hari Guru Nasional [Bagian1]

Kasus murid melecehkan guru, DOK. Istimewa
Guru sebagai pendidik bagi murid semakin termarginalkan perannya. Murid pun semakin melebarkan sayap ketidakhormatannya pada guru. Imbasnya, hubungan  yang terjalin antara guru dan murid tidak lebih sebagai ‘relasi bisnis’. Guru dibayar untuk melayani kepentingan murid, sedangkan murid merasa bisa semaunya terhadap guru karena sudah membayar mahal biaya pendidikannya yang ia sinyalir sebagai ‘lahan’ membayar gaji gurunya. Murid pun tidak menjadi bijak dalam menerima nasehat guru yang bertolakbelakang dengan pemahamannya.

Oleh: Hasni Tagili
(Dosen Universitas Lakidende & Aktivis MHTI Konawe)

Sholihah - Tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional (HGN) di Indonesia. Hari tersebut dipandang sebagai momentum untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru. Sayangnya, apresiasi terhadap guru di momen tersebut masih sering tercemari dengan berbagai prahara. Mengapa demikian?

Seremoni Hari Guru Nasional

Dilansir dari laman Padamu.net (07/11/2016), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan asosiasi profesi guru seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) untuk memperingati HGN 2016.

Tema yang diusung kali ini sama seperti tema tahun lalu yaitu “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Tema ini dinilai masih sangat relevan dengan kebijakan pemerintah dalam menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan beradab, di tengah-tengah percaturan kehidupan masyarakat global

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata, mengatakan bahwa HGN tahun ini akan dikemas sedemikian rupa dengan kesepakatan bersama untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Kemendikbud akan mengadakan rangkaian kegiatan dalam memperingati HGN tahun 2016 dengan menyelenggarakan Gerak Jalan Sehat pada 20 November 2016, ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 22 November 2016, dan Upacara bendera tepat di Hari Guru Nasional sekaligus HUT ke-71 PGRI tanggal 25 November 2016.

Kemendikbud bersama-sama dengan organisasi profesi guru juga mengadakan simposium guru dan tenaga kependidikan pada tanggal 26 November 2016 yang diikuti oleh 2.000 guru seluruh Indonesia. Topik yang akan dibahas ada 10 topik, yaitu: 1) Penguatan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan; 2) Optimalisasi Pendidikan Inklusi; 3) Revitalisasi SMK dalam Menghadapi Daya Saing Ketenagakerjaan; 4) Membangun Budaya Literasi di Satuan Pendidikan; 5) Profesionalitas Guru dan Tenaga Kependidikan melalui GTK Pembelajar; 6) Perlindungan Guru dan Tenaga Kependidikan; 7) Membangun Sekolah yang Aman dan Nyaman untuk warga Sekolah; 8) Peningkatan Mutu dan Akses Pendidikan di Daerah 3T; 9) Teknologi Informasi sebagai Media dan Sumber Pembelajaran; 10) Penilaian Kinerja Guru dan Tenaga Kependidikan.

Klimaks seremoni Hari Guru Nasional tahun 2016 jatuh pada tanggal 27 November 2016 di Sentul International Convention Center (SICC), Sentul, Bogor, Jawa Barat yang diikuti oleh sekitar 10.000 guru.

Heroiknya perayaan HGN ternyata belum berbanding lurus secara maksimal terhadap keamanan guru. Masih saja mudah kita temukan prahara pendidikan yang menimpa pahlawan tanpa tanda jasa kita ini. Bagaimana tidak? Tanggal 9 November 2016 menjadi saksi yang sangat memilukan atas tindakan AF (14th), siswa SMP-IT Al Karim Noer Sekayu, yang nekat menikam gurunya sendiri, Kurniasih Awaliyah (35th) alias Asih, lantaran tersinggung. Na’asnya, AF menikam gurunya menggunakan pisau sebanyak 13 kali. Beruntung, peristiwa tersebut tidak membuat Asih kehilangan nyawanya (Sindonews.com, 09/11/2016).

Prahara keamanan terhadap guru, selain dirasakan oleh Asih, juga pernah dialami oleh Dasrul, guru SMK Negeri 2 Makassar yang dipukul oleh murid dan orangtua muridnya karena dirinya menghukum murid tersebut akibat tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Pemukulan tersebut mengakibatkan pendarahan dibagian hidung dan kepalanya (Republika.co.id, 11/08/2016). Nurmayanti, guru yang dipenjara karena mencubit muridnya yang ternyata anak polisi, atau Aini, dosen yang dibunuh mahasiswanya sendiri, juga merupakan bagian dari prahara pendidikan kita.


Guru sebagai pendidik bagi murid semakin termarginalkan perannya. Murid pun semakin melebarkan sayap ketidakhormatannya pada guru. Imbasnya, hubungan  yang terjalin antara guru dan murid tidak lebih sebagai ‘relasi bisnis’. Guru dibayar untuk melayani kepentingan murid, sedangkan murid merasa bisa semaunya terhadap guru karena sudah membayar mahal biaya pendidikannya yang ia sinyalir sebagai ‘lahan’ membayar gaji gurunya. Murid pun tidak menjadi bijak dalam menerima nasehat guru yang bertolakbelakang dengan pemahamannya.

Lanjut [Bagian 2]