Menyeka Tangis di Hari Guru Nasional [Bagian 2]

Guru dituntut murid, DOK. Istimewa
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Karawang, Nandang Mulyana, mengatakan bahwa akhir-akhir ini, banyak guru dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa hanya karena anaknya dicubit atau dijewer. Padahal, perlakuan guru tersebut dilakulan di lingkungan sekolah guna mendidik siswa yang tidak disiplin

Akar Masalah

Pengamat Kebijakan Publik UGM, Dr.soc.pol. Agus Heruanto Hadna, menilai prahara yang mengancam keamanan terhadap guru, apalagi berujung pada tindak kekerasan, terjadi akibat sistem pendidikan di Indonesia yang mengabaikan pendidikan perilaku dan karakter. Menurutnya, pendidikan di Indonesia lebih banyak menekankan pada aspek kognitif. Sementara itu, aspek perilaku cenderung dilupakan (Liputan6.com, 31/08/2016).

Dosen FISIPOL UGM ini menuturkan bahwa terjadinya kekerasan di sekolah menunjukkan tidak bekerjanya komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua murid. Meskipun sudah banyak dibentuk komite sekolah, namun belum banyak yang memanfaatkan wadah ini sebagai sarana menjalin komunikasi orang tua murid dengan pihak sekolah.

Di lain pihak, terdapat kontradiksi makna ‘kekerasan’ pada UU guru dan dosen dengan UU Perlindungan Anak. Diakui oleh Anggota Komisi X DPR, Reni Marlinawati, bahwa saat ini memang sudah ada regulasi perlindungan guru yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74/2008. Namun, aturan tersebut terkesan berbenturan dengan UU Perlindungan Anak. Dalam sejumlah kasus yang mencuat, aparat penegak hukum kerap menjerat para guru dengan UU No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Di satu sisi, profesi guru juga diatur dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sementara di Pasal 39 ayat (2) UU No 14 Tahun 2005 secara jelas bahwa guru berhak mendapat perlindungan hukum, perlindungan profesi dan perlindungan keselamatan kerja serta kesehatan kerja (Republika.co.id, 12/08/2016).

Maraknya kasus kekerasan terhadap guru, membuat sejumlah pihak memandang perlu adanya regulasi khusus terkait perlindungan guru. Dilansir dari laman Kompas.com, 13/08/2016, Ketua DPR RI, Ade Komarudin, mengusulkan agar ada peraturan khusus yang dibuat untuk melindungi profesi guru. Selama ini, Ade menilai, posisi guru kerap kali menjadi objek yang disalahkan jika tak ada aturan yang melindunginya (11/08/2016).

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Karawang, Nandang Mulyana, mengatakan bahwa akhir-akhir ini, banyak guru dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa hanya karena anaknya dicubit atau dijewer. Padahal, perlakuan guru tersebut dilakulan di lingkungan sekolah guna mendidik siswa yang tidak disiplin (Pikiran Rakyat.com, 24/11/2016).

Oleh karena itu, lanjut Nandang, pemerintah harus menerbitkan UU Perlindangan Guru guna melindungi guru dari ancaman kriminalisasi pihak-pihak tertentu. Jika tidak, guru tidak akan mau menegakan kedisiplinan kepada para siswanya karena takut dikriminalisasi. Akibat lebih jauh, siswa hanya bisa menerima ilmu pengetahuan umum tanpa disertai pendidikan moral. Menurut Nandang, melalui UU Perlindungan Guru, nantinya akan bisa dipilah, mana perbuatan guru yang termasuk kriminal murni dan mana yang merupakan proses mendidik. Artinya, guru yang berbuat salah dengan niat mencelakakan murid tetap bisa diproses sesuai hukum yang berlaku.

Islam Memandang

Guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu (tsaqofah dan ilmu pengetahuan). Sehingga, guru wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad).

Salah satu faktor yang memegang peranan penting lahirnya generasi ‘emas’ zaman dahulu adalah pentingnya penghormatan terhadap guru. Islam bahkan menempatkan ilmu dan orang yang mengajarkannya pada kedudukan yang amat tinggi. Imam al-Fara’, seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra, diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228).

Islam pun mengajarkan bagaimana adab-adab murid terhadap guru, termasuk adab duduk, adab berbicara, adab bertanya, adab dalam mendengarkan pelajaran, mendoakan guru, meneladani penerapan ilmu dan akhlaknya.

Selain itu, seorang murid juga hendaknya bersabar terhadap kerasnya sikap guru, sebab hal tersebut dilakukan pasti demi kebaikan muridnya.  Allah SWT berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (TQS. al Kahfi: 28).

Al Imam As Syafi’i mengatakan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya, gagalnya mempelajari ilmu karena engkau memusuhinya”. Betapa besar jasa para guru yang telah memberikan ilmunya kepada manusia. Mereka kerap menahan amarahnya dan kerap merasakan perihnya menahan kesabaran, maka sungguh tak pantas seorang murid melupakan kebaikan gurunya, apalagi berbuat kekerasan padanya.


Tak kalah penting, penguasa juga menunjukkan penghargaannya pada ulama (guru). Imam ar-Rafii suatu saat mengunjungi Sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih mazhab Syafii tersebut menyampaikan, “Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri. Saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.” Namun, Sultan menjawab, “Saya justru yang ingin mencium tangan Anda.” Akhirnya, Sultan mencium tangan Imam ar-Rafii (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, VIII/284). Dengan demikian, tergambarlah dengan sangat jelas bagaimana Islam menjaga interaksi guru, murid, dan pemerintah. Sehingga sudah sewajarnya kaum Muslim memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam agar dunia pendidikan kita tidak diwarnai lagi dengan prahara terhadap para guru. Wallahu’alam bisshawab. []

Editor: Yustia