Tahun Baru dan Harapan Umat yang Terbelenggu



Namun kapitalisme-demokrasi telah merenggut harapan-harapan itu, dan seperangkat paham penunjangnya seperti hak asasi manusia, liberalisme, dan nasionalisme telah merampas harapan umat islam untuk bisa menjadi muslim sepenuhnya (kaffah), membelenggu harapan untuk bisa  hidup menjadi manusia seutuhnya.

Oleh: Purna Akbar 
(Aktivis Gema Pembebasan Tangerang)

Sholihah - Manusia tidak bisa hidup jika tanpa harapan, sebaliknya manusia akan tetap bertahan selagi ia masih memiliki harapan dan impian. Pengejaran harapan menjadi kenyataan dan pemenuhan impian menjadi realitas merupakan energi pendorong bagi setiap manusia, karena pada hakikatnya manusia dalam segala aktifitasnya bagaikan membangun sebuah jembatan di atas jurang antara bukit kenyataan dan bukit harapan.

Sedangkan tahun baru selalu memberi energi baru bagi setiap orang, terkadang frase pergantian tahun membuat banyak orang mengasosiasikan kata "pergantian" ini dengan hidupnya, dalam artian masing-masing orang mengharapkan pergantian hidup yang lebih baik. Entah itu dalam tradisi kalender hijriah atau kalender masehi, selalu mengekspresikan pengharapan.

Dapat dipastikan setiap orang memiliki harapan dan impian. Para buruh berharap mendapatkan upah yang layak, para petani berharap panen yang berhasil, para pendidik berharap hidup yang terjamin dan lain sebagainya. Itu dari sisi pragmatis, dari sisi ideologis tentu banyak harapan dan impian yang menjadi energi pendorong bagi setiap orang untuk terus bertahan dan berjuang. Misalnya para peserta aksi bela islam jilid 1,2 & 3 yang berharap penista agama segera dihukum dan dipenjara, para pejuang syariat islam yang berharap syariat islam segera tegak di bumi Indonesia.

Dalam skala global tentu juga banyak tersimpan harapan, seperti harapan dibebaskannya Suriah dari diktator Bashar Assad, harapan dibebaskannya masjid al-aqsha dari kepungan zionis yahudi, harapan dibebaskannya pengungsi rohingnya dari dari rongrongan ekstrimis budhis serta sederet harapan mulia lainya.

Namun kapitalisme-demokrasi telah merenggut harapan-harapan itu, dan seperangkat paham penunjangnya seperti hak asasi manusia, liberalisme, dan nasionalisme telah merampas harapan umat islam untuk bisa menjadi muslim sepenuhnya (kaffah), membelenggu harapan untuk bisa  hidup menjadi manusia seutuhnya.

Kita saksikan bagaimana para kapitalis mengeruk kekayaan alam yang ada di dasar lautan hingga yang ada di tengah hutan belantara, dari aceh hingga ujung  papua semua dijamah dengan rakusnya. Para petani merintih karena harga pupuk dan pestisida mencekik sementara harga komoditi hasil pertanian terus jadi permainan para tuan. Di lain tempat para buruh peras tenaga dan potensinya serta ditelantarkan hidupnya. Kita saksikan bagaimana ideologi kapitalisme demokrasi mendegradasi moral generasi muda dengan virus LGBT, freesex, narkoba, dan semacamnya melalui pintu liberalisme. Tak hanya itu, sistem kapitalisme demokrasi ini juga mematikan aspirasi islam, hingga umat islam harus bersusah payah menguras tenaga  sekedar hanya untuk menuntut penista agama segera dipenjara.



Namun, yang demikian harusnya tidak membuat umat Islam gentar dan lemah dalam berjuang, justru menjalaninya sebagai tantangan kebangkitan Islam.  Karena harapan harus selalu menyala, seperti kata pepatah “seandainya tidak ada harapan, maka tidak ada ibu yang menyusui bayinya”. Maka, hal tersebut harusnya membuat umat islam semakin termotivasi untuk berjuang  menghancurkan sistem kapitalisme-demokrasi ini dan menggantinya dengan dengan sistem Islam (Khilafah). []

Editor: Aab