SMS Haru dari Teman SMA-ku yang Muallaf

Dalam pembicaraan di telpon, ia bercerita tentang bagaimana hari-harinya setelah mengucapkan syahadat. Terutama dalam pelaksanaan sholatnya yang ia selalu kerjakan di Masjid dan selalu berjamaah. Alasannya karena ia belum tau bacaan dalam sholat dan sekedar mengikuti imam dan jamaah lainnya bergerak ketika sholat. 

Sholihah - Pembaca yang budiman, mungkin heroiknya kisah muallaf yang membuat terkagum dan haru telah sangat banyak kita jumpai, namun apa jadinya jika muallaf itu adalah teman SMA kita?. Tentu ada kebahagian besar yang tak mungkin bisa lagi kita lukiskan. Hal ini yang dialami oleh pembaca Sholihah, Muhammad Novriyansyah (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung), Berikut uraian tulisan yang dikirimkan ke redaksi:

Seorang sahabat SMA menghubungiku beberapa waktu lalu untuk mencarikan guru ngaji. 
Awalnya tak percaya dengan apa isi pesan yang kirimnya. Maka ku coba tanya langsung melalui telpon. 

Salam yang Islam ajarkan mengawali ucapan pertama yang ku dengar darinya dan belum aku menjawab, aku hanya berdoa agar ia segerakan dapat hidayah. 

Suara yang biasanya terdengar keras, kini berganti dengan kelembutan bersuguhkan rasa sayang.
Dan.. Ternyata benar, ia telah muallaf. 

Wa'alaikumussalam,  Alhamdulillah, Allahu Akbar. 
Haru, bahagia, sekaligus salut, dia masih muda, dia berani. Bahkan dari jarak jauh (Sumut-Babel) ia mau dan tak malu bertanya menyoal mengaji. 

Dalam pembicaraan di telpon, ia bercerita tentang bagaimana hari-harinya setelah mengucapkan syahadat. Terutama dalam pelaksanaan sholatnya yang ia selalu kerjakan di Masjid dan selalu berjamaah. Alasannya karena ia belum tau bacaan dalam sholat dan sekedar mengikuti imam dan jamaah lainnya bergerak ketika sholat. 

Ia tutupi kekurangannya dalam pelaksanaan sholat dengan secara JAMAAH. 

Mari kita doakan saudara kita tersebut untuk terus Istiqomah mempelajari islam secara kaaffah dan juga tidak meninggalkan aktivitas dakwah. 

Satu pelajaran besar dari kisah temanku ini adalah tentang jamaah yang mampu membuat ia kuat, Persis sepertiku yang terus belajar menjadi kuat dalam jamaah dakwah. Dalam jamaah dakwah, sedari dulu rasanya  aku ini yang terlemah.  Lisanku kaku, aktivitasku jauh dari aktivitas aktivis dakwah. 
Aku penuh kekurangan. Terbata-bata ketika berdiskusi maupun tatkala dimintai pendapat, ilmupun tak seberapa. Aktivitas mengontak juga tak banyak dan seringnya ragu-ragu.  Tapi aku belajar dari kisah sahabat yang baru menjadi muslim tadi, dimana aku harus tetap bersama  jamaah meski dalam berbagai kekurangan. Tuk terus belajar dan menjaga tetap istiqomah dalam dakwah. 

"Tetaplah bersama JAMAAH dalam keadaan apapun."

Semoga saudara kita tadi senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan mendapatkan pahala berlimpah. 
Kita juga patut bangga padanya maupun muallaf-muallaf lainnya, dan paling utama bangga pada agama ini..  Semoga ia dan kita dipertemukan di syurga. []

Editor : Aab