Darurat Generasi: Bayi 5 Bulan Korban Narkoba Termuda Ada di Indonesia

Ilustrasi
Kasus ini terungkap setelah BNN dan kepolisian menangkap orangtua sang bayi yang berprofesi sebagi pengedar narkoba jenis sabu (M Denny Hidayat, 33) bersama temannya tan tsi chua alias babeh (62) di kios tempat usaha deny di jalan Tjilik Riwat Palangka Raya.

Oleh Jumaisah
Mahasiswi Jurusan Bimbingan Konseling FKIP Universitas Halu Oleo

Sholihah - Lagi-lagi peristiwa yang mengejutkan bangsa Indonesia yang mengundang banyak perhatian banyak kalangan. Bukan lagi kasus balita yang merokok yang pada usia 2 tahun sanggup merokok hingga 40 batang perhati. Foto dan vidionya menjadi headline berita-berita di luar negeri. Namun saat ini ada yang lebih mengejutkan dari hal itu yaitu kasus bayi 5 bulan yang positif terkena narkoba jenis sabu. Indonesia gawat darurat narkoba.

Kasus ini terungkap setelah BNN dan kepolisian menangkap orangtua sang bayi yang berprofesi sebagi pengedar narkoba jenis sabu (M Denny Hidayat, 33) bersama temannya tan tsi chua alias babeh (62) di kios tempat usaha deny di jalan Tjilik Riwat Palangka Raya.

Akibat kebiasaan orangtua mengkomsumsi narkoba, bayi yang tidak berdosa pun ikut terkena dampak dari narkoba tersebut. Narkoba jenis sabu tersebut masuk kedalam tubuh bayi melalui air susu ibu (ASI). Selain itu banyak lagi kasus mengenai narkoba dari data BNN setahun belakangan ini  pengguna narkoba di Indonesia meningkat secara drastic. Penigkatannya pada tahun 2015 mencapai 5,9 juta kasus.

Inilah contoh kasus yang memperlihatkan bahwa tak henti-hentinya problematika umat saat ini semakin marak terjadi dan ini dapat mengakibatkan dampak buruk bagi sekitarnya bahkan seorang bayi yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban. Entah problem apa lagi yang akan terjadi berikutnya, mungkin hal itu juga suatu saat bisa menimpa kita bahkan lebih parah lagi.

Hal ini tidak lepas dari system hukum di negri kita ini yang mengadopsi system peraturan kapitalisme-liberal yang merupakan ibu kandung dari demokrasi yang tidak mampu memberikan efek jera terhadap pelaku bahkan kasus narkoba semakin meningkat tiap tahunnya. Memang pemerintah pernah melakukan hukuman mati kepada 14 orang ditahun 2015. Pemerintah mengatakan bahwa hukuman mati sangat efektif untuk memberikan efek jera bagi pelaku penyelundupan dan pengedaran narkoba. Namun sudah setahun lebih setelah hukuman mati diberlakukan. Jika memang hukuman tersebut seefektif yang dikatakan oleh pemerintah seharusnya sudh tidak ada lagi yang melakukan tindak criminal tersebut.

Sudah lama bangsa Indonesia menggunakan system peraturan ini namun hal itu membuat bangsa ini semakin jauh dari kata sejahtera. Ini menunjukkan bahwa lemahnya system hukum di negri sekuler. Setelah mendengar dan mengetahui fakta kebobrokan dari system ini lantas apa yang bisa kita harapkan? Setelah para orangtua bahkan para remaja calon penerus bangsa tergerus kedalam jurang kemaksiatan dan penderitaan, apakah anak-anak, balita hingga bayi pun harus jadi korban juga? Bukan Cuma hal itu bahkan liberalisme-sekulerisme membuat para orang tua semakin jauh dari pemahaman terhadap pengasuhan anak.

Pemerintah sudah mengatakan bahwa Indonesia krisis utamanya adalah narkoba, tapi  angka-angka statistic tentang kenaikan tindak narkoba muncul setelah diberlakukannya hukuman mati. Ini menjadi pertanda bahwa dibutuhkannya solusi lain dalam membrantas narkoba di Indonesia.

Sebagai solusi, ada satu system peraturan yang mana dapat menciptakan individu-individu yang bertakwa  dan control masyarakat, yaitu memberikan pemahaman kepada setiap individu masyarakat tentang keharaman mengkomsumsi, mengedarkaan yang memabukkan berupa khamr dan narkoba sehingga mereka akan menjauhi barang haram tersebut dan juga memiliki peraturan yang mesti dilaksanakan salah satunya menghilangkan mekanisme supply dan demand (penawaran dan permintaan) tehadap barang haram. Narkoba adalah zat yang memabukkan dan statusnya sama dengan khamr sehingga dapat menghilangkan akal. juga memberikan sanksi yang tegas dan disaksikan oleh masyarakat sehingga memberikan efek jera bagi semua perilaku criminal yaitu di hukum pidana berupa dipenjara selama 15 tahun dan yang jumlahnya ditentukan oleh qadhi  dan tak pandang bulu, semua yang terlibat dalam pembuatan dan pengedaran narkoba akan dikenai sanksi meskipun para aparat yang menyeleweng.

Merekrut aparat penegak hukum yang bertakwa. Dengan sistem hukum pidana Islam yang tegas, yang notabene bersumber dari Allah SWT, serta aparat penegak hukum yang bertakwa, hukum tidak akan dijualbelikan. Mafia peradilan—sebagaimana marak terjadi dalam peradilan sekular saat ini—kemungkinan kecil terjadi dalam sistem pidana Islam. Ini karena tatkala menjalankan sistem pidana Islam, aparat penegak hukum yang bertakwa sadar betul, bahwa mereka sedang menegakkan hukum Allah, yang akan mendatangkan pahala jika mereka amanah dan akan mendatangkan dosa jika mereka menyimpang atau berkhianat. Jika system ini diterapkan, apakah masih ada yang ingin melakukan tindak criminal? Apakah masih ada yang akan jadi korban tak bersalah?

System ini telah terbukti ampuh menyejahtrakan umat dan juga berbanding 3600 dari system saat ini (demokrasi/kapitalisme) sekitar 14 abad lamanya. System ini akan melindungi para kaum wanita, anak-anak apalagi bayi dan tidak akan membiarkannya menjadi korban kebiadaban system buatan manusia.

System ini berasal dari sang pencipta manusia dialah Allah swt yang menciptakan segala sesuatu yang ada didunia ini, alam semesta, kehidupan dan manusia. Lantas siapakah yang dapat mengatur manusia selain yang menciptakannya?

System itu ialah system islam (penerapan hukum islam secara kaffah/menyeluruh) dalam naungan KHILAFAH ISLAMIYAH.

Tidakkah kita menginginkan system semacam itu?. []

Editor: Yustia