Potret Kelam Dibalik Hari Perempuan Internasional


... masih banyak perempuan yang belum tahu latar belakang lahirnya Hari Perempuan Internasional. Dikutip dari Telegraph, akar sejarahnya dapat ditelusuri dari tahun 1908 ketika 15 ribu perempuan berunjuk rasa di sepanjang jalan di kota New York, Amerika Serikat menuntut hak-haknya untuk memberikan suara, pembayaran upah yang lebih baik, dan memangkas jam kerja karyawan.

Oleh Ummu Naflah 
Aktifis MHTI Cikupa-Tangerang  

SholihahHari Perempuan Internasional baru saja dirayakan di berbagai negara termasuk Indonesia pada tanggal 8 Maret kemarin.

Tema Hari Perempuan Internasional ke-106 tahun 2017 kali ini adalah #BeBoldForChance atau berani melakykan perubahan. Tujuannya untuk merangkul masyarakat untuk maju dan melakukan aksi untuk membantu menggerakkan kesetaraan jender. Pesan ini disebarkan ke seluruh dunia, kepada jutaan perempuan, anak perempuan dan laki-laki yang ikut memperingati hari bersejarah bagi perempuan.

Mungkin masih banyak perempuan yang belum tahu latar belakang lahirnya Hari Perempuan Internasional. Dikutip dari Telegraph, akar sejarahnya dapat ditelusuri dari tahun 1908 ketika 15 ribu perempuan berunjuk rasa di sepanjang jalan di kota New York, Amerika Serikat menuntut hak-haknya untuk memberikan suara, pembayaran upah yang lebih baik, dan memangkas jam kerja karyawan.

Setahun kemudian, Amerika Serikat memperingati Hari Perempuan Nasional pada tanggal 28 Februari. Peringatan ini sesuai dengan deklarasi Partai Sosialis Amerika. Clara Zetkin, pemimpin perempuan kantor untuk Partai Sosialis Demokrat Jerman menuangkan ide tentang Hari Perempuan Internasional pada tahun 1910. Zetkin menyarankan agar setiap negara harus merayakan hari itu setiap tahun guna mendorong tuntutan-tuntutan mereka. Lebih dari 100 perempuan dari 17 negara di satu konferensi menyepakai saran Zetkin dan terbentuklah Hari Perempuan Internasional.

Hari Perempuan Internasional untuk pertama kali dirayakan di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss pada tanggal 19 Maret 2011. Dua tahun kemudian, 1913, diputuskan mengubah tanggal peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi 8 Maret. Sejak itu Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret. Perserikatan Bangsa-bangsa mengakui Hari Perempuan Internasional tahun 1975 dengan membuat tema khusus setiap tahunnya ( Tempo.co, 7/3).

Melihat sekilas latar belakang lahirnya Hari Perempuan Internasional tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelam kondisi perempuan di barat pada saat itu. Di mana perempuan menjadi objek untuk diperas keringat dan darahnya untuk menggerakkan roda perekonomian negara dengan upah murah. Sementara hak-hak perempuan tidak dipenuhi dengan layak oleh para majikan dan negara. Inilah yang memicu terjadinya aksi perempuan untuk memperoleh hak yang setara dengan laki-laki. Di mana suara dan hak-haknya dapat didengar dan dipenuhi.

Diskriminasi yang menimpa perempuan-perempuan barat inilah yang melahirkan gerakan feminisme di barat yang kemudian disebarluaskan ke negeri-negeri muslim. Lewat paham feminisme ini kaum muslimah diajak untuk berkiprah di ranah publik agar mendapat hak yang setara dengan laki-laki dengan kebebasan yang keblabasan. Kaum muslimah pun disibukkan untuk meraih posisi yang sama dengan laki-laki dan mengabaikan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangganya.

Kehancuran pun mengancam keluarga dan generasi umat ini akibat perempuan tak lagi menjalankan fitrahnya sebagai seorang ibu. Tingginya kasus perceraian, maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, meningkatnya kasus aborsi akibat pergaulan bebas dan dekadensi moral remaja adalah dampak paham feminisme yang meracuni perempuan-perempuan muslimah. Dampak ini pun mulai dirasakan sendiri oleh barat di mana paham feminisme ini lahir. Ini dibuktikan dengan mulai munculnya berbagai gerakan anti-feminisme yang mengkritisi buruknya feminisme yang diagung-agungkan oleh sebagian besar perempuan-perempuan barat.

Feminisme jelas tak sejalan dengan Islam. Di mana Islam memandang bahwasannya baik laki-laki maupun perempuan adalah makhluk Allah SWT dan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sesuai dengan fitrahnya. Allah menciptakan keduanya dengan segala perbedaannya untuk saling melengkapi bukan untuk saling berkompetisi. Perbedaan alamiah pada keduanya berfungsi untuk menjalankan perannya masing-masing di kancah kehidupan dunia. Tujuannya semata-mata untuk beribadah untuk menggapai ridho Allah SWT.

Perbedaan keduanya adalah fitrah yang Allah SWT berikan untuk menjalankan amanah yang telah dibebankan kepada keduanya, bukan untuk bersaing tapi untuk melengkapi. Tidak ada yang diunggulkan satu-satu sama lain karena Allah SWT telah menciptakan keduanya sesuai dengan porsinya. Bagi seorang laki-laki kemuliaannya terletak ketika ia mampu menjalankan fungsinya sebagai imam bagi keluarganya dan bertanggung jawab dalam mencari nafkah serta mendidik istri dan anak-anaknya agar selamat mengarungi kehidupan dunia dan akhirat. Bagi seorang perempuan kemuliaanya adalah ketika ia dapat menjalankan fungsinya sebagai ibu, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing dan mendidik anak-anaknya serta mengatur urusan rumah tangga.

Syariat Islam juga memuliakan perempuan dengan memerintakan seorang perempuan untuk menutup auratnya agar ia tak dihargai sebatas penampilan fisiknya dan agar ia terjaga dari lisan dan pandangan orang. Yang membedakan keduanya hanyalah ketakwaannya kepada Allah SWT,”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS al-Hujurat [49]: 13).

Islam juga memberikan ruang gerak pada perempuan untuk berkiprah di ranah publik selama ia tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangganya. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan setinggi-tingginya dan amal-amalan lain di segala bidang, bahkan ia ikut ambil bagian dalam dakwah untuk menyeru kepada manusia.


Hanya Islam yang mampu membentuk perempuan-perempuan sehebat Khadijah, secerdas Aisyah, selembut dan seistiqomah Fathimah, serta setangguh Al-Khansa. Perempuan-perempuan yang dirindukan dunia juga penghuni surga. Hanya Islam pula yang mampu memuliakan perempuan, bukan feminisme yang justru mengantarkan perempuan pada kehancurannya. []

Editor: Yustia